Tampilkan postingan dengan label Me in STAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Me in STAN. Tampilkan semua postingan
  I told you before, dan masih, sampai saat ini pun aku masih menganggap persahabatan kita layaknya Maruko dan Tamae.
Me and You?

Maruko yang sering absurd tapi menggemaskan. She refers to me (Berhubung ini tulisanku, jadi it’s my privilage buat narsis ^^) dan Tamae yang tenang, sabar & anggun (Anak Gunung, red ^^). She refers to you.  Beberapa kali aku berkhayal , apa jadinya kalau kita bisa masuk berpetualang ke dunia animasi. Jika ada kesempatan untuk itu, aku pastinya akan memilih ‘Chibi Maruko-Chan’ sebagai anime yang akan aku jelajahi. Tidak hanya kamu, aku juga akan mengajak seisi kelas lengkap dengan dosennya.
Mungkin bakal seperti ini:
Absolutely Amazing?

      Di gambar atas Eka aku representasikan sebagai Hamaji. Bukan apa-apa, Hamaji dikenal sebagai tokoh yang aneh & gak tau malu. Berhubung dua sifat itu kurang baik, mari kita limpahkan hal-hal kurang baik ke Eka xixixixi.

      Dan masih tentang Chibi Maruko-chan, aku jadi ingat tentang rencana membuat ‘Time Capsule’. Ya itu, yang hanya berakhir menjadi wacana, sama seperti jutaan rencana kita yang lain. Time flies, jarak dan waktu semakin mengancam rencana-rencana lain berubah menjadi wacana. Tapi tenang, tentang ‘Time Capsule’ ala Live Action Maruko, I’ll write to the 20 years older Reni-chan right here, in this post. Tunggu dulu, rasanya 20 tahun lagi terlalu lama & kamu juga udah terlalu tua *eh keceplosan*. Oke kalo gitu I’ll write to the 10 years older Reni-chan.

“Dear Reni, 
     Saat ini (10 tahun yang akan datang) kamu sudah menjadi wanita yang sukses lengkap dengan sebuah keluarga kecil yang harmonis. Anak-anak yang pintar, lucu & menggemaskan. Suami yang bertanggung jawab, sholeh dan imam terbaik dari segala aspek. 
     Jika saat ini kamu memilih tetap berkarir sebagai PNS, aku yakin kamu telah mencapai posisi yang cukup signifikan di tempat kamu bekerja. Dan jika kamu memutuskan untuk hijrah entah menjadi ibu rumah tangga, karyawan swasta ataupun seorang enterpreuner, aku yakin kamu telah mencapai titik keberhasilan dimana kamu mulai bisa menikmati buah dari apa yang kamu tuai. 
        My beloved friend, apapun yang kamu impikan dan butuhkan. Aku yakin dengan keuletan yang kamu punya, kamu bisa meraihnya, Insya Allah. 
                                                                                                                          Regards,

                                                                                                                              Kiki”

Ups. Aku melupakan satu bagian terpenting tentang Time Capsule. Itu baru boleh dibaca 10 tahun yang akan datang. Berhubung kamu sudah membacanya, oke kita sebut saja itu doa ^^. 
If anyone can fill my world with joy and happiness and cast away all my loneliness, it’s you. Yes, it’s you my friend, I mean my superb best friend. Happy Birthday ^^

Last but not least, ini ada bonus kaset dari Kalimongso Fried Chicken 
https://soundcloud.com/riski-hidayati/friend hehehehehe
 
    Setelah sempat vakum, tahun ini Sekolah Tinggi Akuntansi Negara membuka pendaftaran mahasiswa/mahasiswi baru lagi, blog. Pastinya kabar ini jadi angin segar buat Siswa-siswi SMA yang terbatasi dana dalam rangka melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, atau bagi mereka yang berniat jadi pegawai negeri di lingkungan Kementerian Keuangan. Ya, walaupun banyak kabar yang kian membuat citra kampus ini memburuk, ia tetap berdiri tegar, memperbaiki citranya, mempertahankan konsep going concern-nya. Sebelum postingan kali ini semakin out of topic , cek this out, blog :)


" Menjadi diri sendiri tak lagi penting ketika berubah bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik"

Di akhir masa perkuliahan ini banyak orang-orang di sekitar saya yang tiba-tiba 'berubah'. Alhamdulillah, they're turned out to the right path. Agak aneh mungkin awalnya. Namun, overall, saya kagum dengan mereka yang mau berusaha keluar dari zona nyaman demi pribadi yang lebih baik. Meninggalkan hal-hal 'menyenangkan' yang sebelumnya ada di kamus bahagia mereka.

Tak jarang saya merasa 'tersentil', seperti diberi teguran oleh yang Maha Kuasa agar saya mengikuti langkah mereka. Unfortunetally, untuk orang berkepribadian cetak tebal macam saya, 'berubah' bisa jadi butuh berlipat-lipat effort dibanding orang biasa. Khususnya untuk hal-hal yang bersifat, genetik mungkin, atau bawaan. 'Sukar bukan berarti tak mungkin', begitu kata textbook. Tapi lagi-lagi, it's hard to do.

Sejauh ini saya masih mencoba berubah. Toh kenyataannya 'Everybody's changed'. Tanpa kita sadari, waktu, usia, lingkungan, sedikit banyak telah merubah kita menjadi pribadi yang berbeda. Dan perubahan macam ini walaupun bergerak lamban biasanya akan lebih konsisten karena melalui proses penyesuaian yang bertahap. Semoga kita semua terus berubah, moving on, ke jalan yang diridhoi-Nya tentu.
Aamiin Ya Rabbal Alamin :)

Metamorphosis

by on 07.41
" Menjadi diri sendiri tak lagi penting ketika berubah bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik" Di akhir masa ...
     Sebelum disalahartikan oleh yang membacanya, saya pastikan kalo saya nggak berniat untuk hura-hura makan di mekdi tiap hari. Bye bye warteg adalah salah satu program yang saya buat (untuk saya sendiri) dalam rangka mengisi waktu luang saya yang overlimit sekaligus menghindari pem-bully-an oleh mertua kelak karena nggak bisa masak. Ya, sebagai seseorang yang sangat visioner (untuk hal-hal absurd) saya berpikir jauh ke depan, blog.
Dengan bye bye warteg, saya menghindari warteg yang notabene dianggap tempat yang krusial buat anak kos. Saya mencoba membuat menu sendiri yang rasa dan bentuknya tidak bisa dipertanggungjawabkan tapi tetep ‘eat-able’.
Berikut menu yang berhasil saya ciptakan.

Day 1: Nasi + Sosis-Tempe Balado + Jamur Kuah

Day 2: Nasi + Sardinnes Balado + Bayam Kuah

Day 3: Nasi + Jamur Asam Manis + Tempe Goreng Spicy



Ternyata setelah dijalani, masak itu sesuatu kegiatan yang cukup mengasyikan. Sepertinya program Bye Bye Warteg ini akan saya perpanjang sampai waktu yang belum ditentukan. ^^


 

Bye Bye Warteg.

by on 13.36
     Sebelum disalahartikan oleh yang membacanya, saya pastikan kalo saya nggak berniat untuk hura-hura makan di mekdi tiap hari. Bye by...
Hai, blog. Postingan kali ini akan menjadinya postingan yang sangat panjang. Jadi kalo mau buang air, buang air dulu aja.

     Kali ini gue mau sharing pengalaman daki gunung pertama kali. Aniway, entah kenapa kok banyak yang heran nanya kenapa tiba-tiba gue mau ikut pendakian ini ya. Am I that fragile? ._.
Awalnya gue juga agak ragu sih buat ikut. Soalnya bulan November ini kan udah masuk musim penghujan, takut bahaya apalagi buat pendaki pemula kayak gue. Tapi berhubung acara pendakian ini dibimbing sama anak-anak pecinta alam kampus yang notabene lebih professional, I took that chance.
     Perjalanan dimulai tanggal 16 november 2012, semua peserta pendakian umum kumpul di plasma kampus pukul 19.00. Dan bayangkan aja kita baru on the way ke Garut  jam 23.00. Sebenernya gue-nya aja sih yang terlalu innocent, padahal gue udah dikasih tau emang bakal berangkat jam segitu.
     Kendaraan yang kita naikin bukan bis, blog. Semacem truk tahanan gitu. Katanya sih biar keliatan kaum marjinal-nya, katanya. Perjalanan ke TKP ternyata makan waktu sekitar 7 jam. Waktu yang panjang banget, apalagi udaranya dingin. Boro-boro tidur, kepala kejedug sana sini terus, bro. Sekalinya tidur pun nggak berasa tidur.
    Kita sampe tkp sekitar pukul 06.00. Sholat, (maksa) buang aer, makan snack dan langsung mulai pendakian pukul 08.00. Ini wajah-wajah kelompok pendakian gue. Gue selalu yang paling ‘imut’.
linda, satria, ari, angga, reni, gue, mas abdu, guide, cahya, aden, pelba, korlak
Belum ada 100 meter jalan, foto lagi. Lagi dan lagi.
Naluri model gue secara nggak langsung bikin gue lebih fokus ke foto-foto daripada daki gunungnya. Parahnya, yang lain ternyata sama. Lagipula, sayang banget kan kalo pemandangan seindah ini nggak diabadikan.

     Trek yang harus didaki nggak sesantai yang gue bayangkan lewat deskripsi yang gue baca dari beberapa blog hasil googling. Katanya gunung papandayan ini cocok banget buat pendaki pemula karena jalurnya yang landai. Dan ternyata ‘landai’ versi bayangan gue sangat berbeda dengan kenyataan yang ada. Di awal-awal treknya emang nyantai, jalan bebatuan disertai bau belerang yang lumayan kuat. Tapi agak keatasan, disaat udah mulai ada rumput dan pepohonan, treknya nanjak, blog. Setiap belum ada lima menit nanjak gue pasti udah ngos-ngosan duluan. Kayaknya gue emang selemah itu ._.

     Di perjalanan kita sempet nyasar . Padahal gue udah nikmatin banget trek ‘bonus’ itu. Sempet ngeliat burung elang juga dari kejauhan. Kalo ini film indosiar gue pasti langsung manggil elang itu ‘wahai elang, tolong antarkan saya ke puncak gunung. Ciaaaattt…’
 Sayangnya ini bukan film indosiar, kalo gue panggil yang ada bisa-bisa dipatok. (kayak bisa manggil elang aja).

     Kita nyampe tempat camp a.k. a Pondok Salada sekitar pukul 12.00. Duduk sebentar sambil nunggu tenda berdiri. Karena tenda jadinya agak lama, gue ngajak Reni ke sumber air. Gue denger di deket camp ini ada sumber air yang airnya bisa diminum. Pasti seru deh mainan air di sungai. Berbekal botol Aqua (Viro deh yang harganya lebih murah), kita cau kesana. Dan ternyata…. sumber air yang dimaksud hanyalah pipa-pipa yang bocor. Kecewa. Tapi jangan khawatir, karena bocornya pipa miring, agak susah buat masukin air ke botol. Alhasil kita tetep basah-basahan. Brrrr.. dingin banget airnya.

     Acara disana agak terhambat karena hujan. Sialnya lagi, tenda kelompok gue bocor. Kita kebanjiran, kedinginan, kelabakan. Hiks. Pengalaman yang memorable banget lah.
Tenda yang bocor

     Malemnya gue nggak bisa tidur, blog. Kebelet pipis, kedinginan. Yang gue heran, bisa-bisanya pada tidur pules kayak gitu. Seketika ngerasa bener-bener pengen pulang. Yang nggak gue suka disini adalah nggak adanya fasilitas sanitasi yang memadai. Jadi kalo mau pipis atau buang air yang lebih besar kita musti cari ‘tempat’ sendiri. Berasa ada di zaman dahulu kala.

    Pagi harinya sekitar pukul 07.30 kita naik lagi ke Tegal Alun, tempat dimana ada padang edelweiss terhampar luas. Untuk kesana kita harus melewati Hutan Mati. Tenang aja, Hutan Mati nggak sehoror namanya kok. Indah banget malah. No pict=Hoax. Ini dia pict-nya.
The Dead Forest

     Setelah melewati Hutan Mati, trek menuju  Tegal Alun lumayan berat. Jalan yang menanjak dan agak licin karena habis diguyur hujan. Selain itu kadang trek ini bersebelahan dengan jurang. Tapi semua terbayar dengan ini….
Sampai di Tegal Alun

     Setelah puas berkeliling-keliling Tegal Alun, kita kembali ke tempat camp untuk makan dan packing perlengkapan karena harus segera turun ke tempat parkir di kaki gunung. Tanpa terbayangkan sebelumnya, tiba-tiba turun hujan. Alhasil, turun gunung kali ini agak menguji adrenalin. Jalanan yang agak curam dan licin, udara yang bertambah dingin. Jika tidak berhati-hati, bisa-bisa kita terperosok dan terbentur bebatuan.Waktu yang dibutuhkan untuk turun ternyata lebih sebentar yaitu sekitar 2 jam. Sesampainya di tempat parkir gue & Reni langsung ke toilet buat ganti celana yang basah kuyup karena cuma pake bagian atas rain coat. Dilanjutkan dengan ke warung, beli gorengan dan langsung masuk ke 'mobil tahanan' untuk pulang.
Perjalanan yang nggak akan terlupakan pokoknya, blog. Harus dicoba.
Sekian dan terima kasih ^^