Tampilkan postingan dengan label Miscellaneous. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Miscellaneous. Tampilkan semua postingan


      Terkadang kebaikan atau perhatian kecil dari orang sekitar itu bisa bikin hari saya yang mendung  berubah jadi cerah seketika. Sebagai Taurus A Type kayaknya saya ini kadang memang terlalu perasa, ya walaupun tetep ada saatnya saya gak peka sama sekitar. Akhir-akhir ini saya merasakan mood swing yang cukup dinamis. Gampang bahagia, tapi gampang juga BT. 

Mood saya bisa langsung bagus karena hal-hal receh, misalnya:

1. Disapa (dengan nama) sama Boss Besar.
Mungkin karena saya biasa invisible dan gak suka cari perhatian kali ya, jadi ketika di­notice  dikit aja udah bikin seneng, apalagi ketika pekerjaan diapresiasi hehehe. Panutan banget sih emang beliau. Humble, sabar tapi tegas.

2.  Temen lama share cerita bahagia
Beberapa bulan yang lalu itu mood saya sempat berantakan. Dan tambah berasa karena saya kurang piknik. Temen-temen main di sekitar juga pada sibuk dengan dunia barunya masing-masing. Mood jelek ditambah kesepian itu kombinasi yang paling buruk. Dan tiba-tiba seorang temen lama PM saya, dia cerita kalo berhasil dapet beasiswa luar negeri.  I am happy for her achievement , tapi sejujurnya saya senang lebih karena saya merasa cukup penting untuk dapat kabar itu langsung dari dia. Kan, anaknya sentimental dan melankolis banget. Mungkin karena saya cenderung introvert kali ya. Circle saya ini bisa dibilang sempit banget. Temen akrab saya bisa dihitung jari, itupun terkadang saya suka suudzon, ”jangan-jangan saya aja yang kepedean ngerasa akrab, buat mereka sih biasa aja”. Sesuai dengan tipe kepribadian MBTI INFJ, saya tipe yang mending punya satu/sedikit temen akrab daripada punya banyak temen tapi sekadarnya. Jadi kalau udah nyaman sama satu temen, bisa kayak anak ayam gitu. Ngikutin induknya terus. Hati-hati  dan sabar aja sih kalau udah ketempelan wkwkwkwk.

3. Ucapan selamat
Ini lebih receh lagi sih. Tadi pagi ada yang telpon saya. Kirain mau tanya kerjaan atau apa gitu. Ternyata temen saya cuma mau kasih ucapan selamat karena hal receh. Merasa ada yang notice dan ingat curcolan saya gitu aja udah bikin seneng. Kayaknya anaknya emang kurang perhatian aja wkwkwkwk.

4. Dan lain-lain (udah lupa dan ngantuk), nanti kalo inget diarsipin lagi deh biar kalo bad mood gampang cari obatnya.

Perhatian kecil itu ternyata bisa buat orang lain bahagia dengan cara sederhana loh. Cukup dengan salam, sapa, notice dan peka dengan yang terjadi di sekitar. Cuma mau menegaskan ke diri sendiri “Berlakulah sesuai dengan seperti apa kita ingin diperlakukan.“

MOOD

by on 08.36
      Terkadang kebaikan atau perhatian kecil dari orang sekitar itu bisa bikin hari saya yang mendung   berubah jadi cerah seketika....




Sebagai perempuan di usia pertengahan 20, pertanyaan ” kapan menikah?”  jadi hot issue di setiap perbincangan. Seakan pertengahan 20 itu  penghujung garis kritis. Sebenernya sesuai sama Life Plan saya semasa kuliah sih, tapi kalau belum ada yang cocok (belum laku) ya nggak perlu dipaksain kan. Buat saya gambling soal dengan siapa kita menikah itu agak menyeramkan.

Saya sebenernya tipe yang santai dengan pertanyaan di atas. Biasanya saya jawab sambil nyengir atau celetukan bercanda macam “daripada tanya, mending cariin”. Dan efeknya beberapa menanggapi dengan serius dan menawarkan perkenalan (jodoh-jodohin)  saya dengan teman/kerabatnya wkwkwkwk. Sebagai orang yang pemalu di awal (malu-maluin di akhir), ku menolak halus dengan seribu macam alasan dan kadang sok-sokan ngoper-ngoper “mending dikenalin sama si ini atau si itu aja tuh”. Gimana nggak jomblo kan, udah nggak laku sok jual mahal wkwkwk.

Ada salah satu tawaran yang saya terima sih sebenernya. Karna yang nawarin (udah kek barang aja bahasanya) itu sahabat dekat saya dan itu timing-nya seakan semesta mendukung gitu. Eh kayaknya kali ini sayanya yang ditolak wkwkwk. Terus jadi mikir, mungkin kalau tawaran yang lain saya terima juga bakal berujung begini :v

Kalau boleh memilih sebenernya lebih pingin menemukan jodoh sendiri yang berawal dari temen gitu, biar lebih tau baik buruknya. Tapi apalah daya hidup saya hanya seputar Kantor-Rumah dimana di kedua tempat itu nggak ada yang bisa dijadikan object of my affection.

Beberapa hari yang lalu di sebuah perbincangan dengan para jomblowati, kami ngomongin soal Hushband Material gitu. Kebetulan lagi gosipin perceraian Dai Muda dan anak pengacara terkenal yang sempet viral itu. Terus saya nyeletuk lah, “kalo aku nggak mau sama yang sholeh sholeh amat”. Ini kalau dibaca netizen nyinyir pasti saya langsung dibully kafir L

Kadang kalau ngomong suka nyeplos dengan pilihan kata yang nggak tepat gini hehe. Sebenernya bukan nggak mau sih, lebih ke takut nggak bisa mengimbangi. Terus akhir-akhir ini lihat berita atau di sekitar banyak banget ustadz yang poligami sama wanita yang lebih muda dan cantik which is beda sama poligami-nya Rasulullah. Kasarnya kayak seakan-akan poligami itu dijadiin tameng buat menghalalin selingkuh. Ya setelah dipikir-pikir lagi ini kayaknya saya yang salah nonton berita/ berada di lingkungan yang salah. Sample yang saya ambil nggak mewakili populasi.

Siapa yang nggak mau punya suami sholeh, maksud saya lebih ke seimbang gitu hidupnya antara dunia dan akhirat, habluminallah dan habluminannas-nya. Banyak ibadah tapi juga masih mentoleransi sesekali nonton bioskop, nonton konser, jalan-jalan ke pantai atau ke gunung, dan yang nggak kalah penting harus bisa diandalkan dan setia wkwkwk. Menikah itu ekspetasinya kan seumur hidup dengan harapan ending happily ever after, jadi ya dijalani juga harus dengan fun biar nggak jadi beban. Supaya menikah itu nggak hanya menyempurnakan agama tapi juga menyempurnakan kebahagiaan dunia-akhirat.

Kenapa saya sebut soal beban? Soalnya lagi-lagi kayaknya karna saya salah gaul :p. Kadang saya merasa orang-orang sekitar saya yang sudah menikah itu banyak yang tingkat kebahagiaannya berkurang gitu, kayak hidupnya penuh beban wkwkwk. Ya walaupun ada banyak saat dimana mereka buat envy dan baper juga.

Jadi kapan nikah ki?
Jawab pake jawaban default template aja deh, " Doain aja wkwkwk"








Husband Material

by on 06.25
Sebagai perempuan di usia pertengahan 20, pertanyaan ” kapan menikah?”   jadi hot issue di setiap perbincangan. Seakan pertenga...


   Beberapa waktu  lalu Indonesia dihebohkan dengan demo beberapa jilid terkait penistaan agama oleh  seorang  (mantan) kepala daerah. Kasus tsb membuat saya sadar dan bangga betapa guyub-nya umat islam. Sayangnya rasa bangga itu sedikit terkikis kecewa dengan adanya  indikasi tunggangan kepentingan politik. Ya karena momentum pilkada.

    Agama memang hal yang sensitif. Dan buat saya mencampur agama dan politik di negeri  bhineka tunggal ika ini dengan porsi sama besar bukan hal yang pas. In My Opinion, agama itu tak lantas nista karena dihina atau dicerca orang. Ya tapi bukan juga berarti membenarkan aksi pihak  yang entah  sengaja/tidak sengaja missleading saat kunjungan kerja itu.Terlalu out of date ya kalo masih bahas kasus itu. Ibarat berputar di timeloop yang nggak ada ujungnya.

    Buat saya The real-penistaan agama (agama islam,red) itu saat kita sebagai umat islam melakukan hal-hal nista/diluar syariat islam. Ya contohnya ada pemeluk agama islam yang mencuri/menipu orang/berzinah/jadi teroris. Di tengah isu agama yang sensitif ini, pasti akan ada satu-dua orang (bisa langsung ribuan orang bahkan kalo di media sosial) yang nyeletuk “Orang islam, maling?” “Orang islam, teroris?” ..... dst. Yang kayak gini ini lebih menistakan agama gak sih? Bikin agama islam jadi terlihat buruk. Padahal kan islam nikmat bagi seluruh alam.

  Di zaman digital sekarang kayaknya ‘kekuatan jempol’ masyarakat berpengaruh penting buat kondisi bangsa dan negara ya? ‘Demokratis’nya masyarakat seakan sudah dalam tahap tidak wajar kalo kebetulan lihat timeline facebook banyak hinaan dan makian untuk pemimpin negara, apalagi lihat perang komentar saat kisruh pilkada kemarin. Semua seakan paling benar, padahal yang menghina belum tentu lebih baik, lebih kompenten dan lebih religi. Kisruh pilpres beberapa tahun lalu sedikit-banyak buat saya jadi apatis dengan ‘politik’. Habisnya daripada energi saya terbuang, hubungan dengan keluarga dan kerabat jadi renggang dan nambah dosa karena semakin kesini politik disini itu semakin nggak sehat. Dan itulah awal mula saya kecanduan Drama Korea :p  Sudah cukup waktu 5/7 hari untuk ‘mengabdi’ pada negara.

   Btw asal mula tulisan ini itu karena saya barusan baca komentar pedas netizen di salah satu situs berita nasional tentang Penipuan Umroh yang lagi heboh. Ya, the real-penistaan agama. Di tengah kekecewaah calon jamaah ada netizen yang berkomentar  ‘jangan menyalahkan orang lain, salah sendiri buat ibadah cari yang murah’...... walaupun ada benarnya, buat saya berkomentar semacam ini bukanlah hal yang tepat. Mengambil yang bukan berhak & tidak menepati akad bagaimana pun ya tetap salah. Dan ada yang namanya empati lho.

Ya, unfortunately I am one of 35.000


pict source : www.religlaw.org

Penistaan Agama

by on 08.07
   Beberapa waktu  lalu Indonesia dihebohkan dengan demo beberapa jilid terkait penistaan agama oleh  seorang  (mantan) kepala daera...





Aku dan kamu. Kita sama-sama menunggu. Aku menunggu di puncak menara, kamu menunggu di tepian sungai. Kita sama-sama menanti. Aku menanti senja datang, kamu menanti fajar menjelang. Kita sama-sama mendamba. Aku mendamba ksatria, kamu mendamba putri.

Kamu menunggu putri di tepian sungai. Saat fajar menjelang putri datang dengan segenggam harapan. kamu dan putri jatuh dan tenggelam. Namun tak lama, bangkit dan terbang, melintasi cakrawala.

Aku menunggu ksatria di puncak menara, ksatria yang menunggu putri di tepian sungai. Saat senja datang, ksatria terbang. Aku mengulurkan tangan tetapi tak bersambut. Ksatria berlalu. Tak hanya melintasi puncak menara, tetapi juga cakrawala. Digenggamnya seorang putri, putri yang selama ini kukira diriku. Aku jatuh dan tenggelam. Tak lama aku bangkit, namun aku tak mampu terbang. Aku hanya mampu ke tepian.

Aku menunggu ksatria di tepian sungai. Tentu ia tak kunjung datang. Ksatria berada di tepian pantai. Kita sama-sama menunggu mentari tenggelam. Bedanya, Aku sendiri kesepian. Ksatria ditemani putri yang selama ini ia dambakan.

*Image by http://www.printactivities.com

Ksatria dan Putri

by on 04.19
Aku dan kamu.  Kita sama-sama menunggu. Aku menunggu di puncak menara, kamu menunggu di tepian sungai. Kita sama-sama menanti. ...
  I told you before, dan masih, sampai saat ini pun aku masih menganggap persahabatan kita layaknya Maruko dan Tamae.
Me and You?

Maruko yang sering absurd tapi menggemaskan. She refers to me (Berhubung ini tulisanku, jadi it’s my privilage buat narsis ^^) dan Tamae yang tenang, sabar & anggun (Anak Gunung, red ^^). She refers to you.  Beberapa kali aku berkhayal , apa jadinya kalau kita bisa masuk berpetualang ke dunia animasi. Jika ada kesempatan untuk itu, aku pastinya akan memilih ‘Chibi Maruko-Chan’ sebagai anime yang akan aku jelajahi. Tidak hanya kamu, aku juga akan mengajak seisi kelas lengkap dengan dosennya.
Mungkin bakal seperti ini:
Absolutely Amazing?

      Di gambar atas Eka aku representasikan sebagai Hamaji. Bukan apa-apa, Hamaji dikenal sebagai tokoh yang aneh & gak tau malu. Berhubung dua sifat itu kurang baik, mari kita limpahkan hal-hal kurang baik ke Eka xixixixi.

      Dan masih tentang Chibi Maruko-chan, aku jadi ingat tentang rencana membuat ‘Time Capsule’. Ya itu, yang hanya berakhir menjadi wacana, sama seperti jutaan rencana kita yang lain. Time flies, jarak dan waktu semakin mengancam rencana-rencana lain berubah menjadi wacana. Tapi tenang, tentang ‘Time Capsule’ ala Live Action Maruko, I’ll write to the 20 years older Reni-chan right here, in this post. Tunggu dulu, rasanya 20 tahun lagi terlalu lama & kamu juga udah terlalu tua *eh keceplosan*. Oke kalo gitu I’ll write to the 10 years older Reni-chan.

“Dear Reni, 
     Saat ini (10 tahun yang akan datang) kamu sudah menjadi wanita yang sukses lengkap dengan sebuah keluarga kecil yang harmonis. Anak-anak yang pintar, lucu & menggemaskan. Suami yang bertanggung jawab, sholeh dan imam terbaik dari segala aspek. 
     Jika saat ini kamu memilih tetap berkarir sebagai PNS, aku yakin kamu telah mencapai posisi yang cukup signifikan di tempat kamu bekerja. Dan jika kamu memutuskan untuk hijrah entah menjadi ibu rumah tangga, karyawan swasta ataupun seorang enterpreuner, aku yakin kamu telah mencapai titik keberhasilan dimana kamu mulai bisa menikmati buah dari apa yang kamu tuai. 
        My beloved friend, apapun yang kamu impikan dan butuhkan. Aku yakin dengan keuletan yang kamu punya, kamu bisa meraihnya, Insya Allah. 
                                                                                                                          Regards,

                                                                                                                              Kiki”

Ups. Aku melupakan satu bagian terpenting tentang Time Capsule. Itu baru boleh dibaca 10 tahun yang akan datang. Berhubung kamu sudah membacanya, oke kita sebut saja itu doa ^^. 
If anyone can fill my world with joy and happiness and cast away all my loneliness, it’s you. Yes, it’s you my friend, I mean my superb best friend. Happy Birthday ^^

Last but not least, ini ada bonus kaset dari Kalimongso Fried Chicken 
https://soundcloud.com/riski-hidayati/friend hehehehehe
Source: picturesof.net

     Complaining. Itu sudah jadi rutinitas saya selama sebulan terakhir ini. Mengeluh ini itu seperti orang paling sengsara di dunia. Baru-baru ini saya sadar betapa tidak bersyukurnya diri ini. Saya kira mengeluh akan membuat pikiran saya lebih bebas tekanan, ternyata tidak juga demikian. Maybe I just spread the darkness.
      Berawal dari suatu kondisi dimana semuanya sebenarnya baik-baik saja, justru saya yang menganggap hal tersebut terlalu monoton. Mulai mengeluh dan mengeluh.
       Kemudian saya dibawa  di scene berbeda dengan latar dan setting yang juga berbeda. Tidak semonoton di kondisi pertama memang. Tapi ini sangat hectic, terlalu cepat dan lelah untuk bisa saya ikuti. ‘I’ve had enough’ Pikirku waktu itu.
     Sekarang saya ada di scene baru dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya mulai menikmati hal-hal yang dulu saya anggap monoton. Mulai nyaman dengan ‘kesakralan’ yang ada. Kecuali satu hal, satu hal yang mengganjal hati. Semoga hal itu hanya perasaanku saja. 

Honestly, saya mulai bosan mengeluh kesana-kemari. Memang sudah kodratnya manusia tidak pernah merasa puas, tapi tetap saja. Seharusnya saya tidak begitu saja membiarkannya membabat habis mood saya. Mengeluh bisa jadi tak ada  gunanya. Mungkin saya hanya harus legowo. Just enjoy the show.

The Show

by on 06.42
Source: picturesof.net      Complaining . Itu sudah jadi rutinitas saya selama sebulan terakhir ini. Mengeluh ini itu seperti orang ...
‘This day just gone be that day..’
Hari terus bergulir. Semuanya perlahan tapi pasti berganti. Tempat baru, lingkungan baru, orang-orang baru. Hari ini hanya akan jadi hari kemarin.

      Awalnya saya pikir saya butuh istirahat setelah hari-hari hectic di Lumire. Ternyata saya salah, saya justru rindu saat-saat hectic itu hanya di hari kedua setelah semuanya (mau tidak mau) diselesaikan. Saya uring-uringan. Pikiran saya dipenuhi satu hal, ‘Mau kemana saya setelah ini?’. Rasa ingin tahu saya sepertinya mulai merepotkan banyak orang. Saya mulai menghantui orang-orang dengan pertanyaan yang sama, Internship Program. Ada beberapa tempat yang akhirnya saya buatkan rank dalam versi saya, yang ujung-ujungnya tak berguna karena ketidakstatisan yang juga saya ciptakan sendiri. Di satu waktu saya yakin akan suatu tempat, tapi beberapa jam kemudian saya pindah ke lain ‘hati’. Dan tepat di saat saya sudah bulat memilih ‘Pluto’, ternyata ‘Merkurius’ yang lebih dulu memberikan kepastian. Ya, seperti wanita yang lain, saya juga butuh kepastian. Saya sadar betul dengan adanya opportunity cost. Dengan memilih ‘Merkurius’ saya harus siap dengan segala konsekuensi yang ada. Salah satu konsekuensinya adalah meninggalkan segala kenyamanan yang ada pada ‘Pluto’, dan oh iya saya lupa menyebut tentang ‘Saturnus’, Goa Plato, Ruang Nostalgia. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi berada disana. Saya memilih hal-hal yang sama sekali baru, mencari goa plato-goa plato yang baru. Semoga ‘Merkurius’ bisa jadi Goa Plato saya selanjutnya.

Merkurius

by on 05.19
‘This day just gone be that day..’ Hari terus bergulir. Semuanya perlahan tapi pasti berganti. Tempat baru, lingkungan baru, orang-oran...
“Ku terjebak di ruang nostalgiaaaa….”

       Ini bukan kali pertama saya merasa terjebak dalam suatu ruang tak bernama. Ya, lagi-lagi saya terjebak dalam sebuah Goa Plato yang serupa tapi tak sama. Lagi. Saya masih ingin berada disana, tanpa mau tahu bahwa realita telah membuat satu per satu dari mereka pergi. Mungkin hanya saya yang merasakan ini, mungkin tak ada tangan yang membalas tepukan tangan ini. I just don’t care. Saya cukup egois. Seperti dokter  dalam permainan ‘Mafia’ yang lebih memilih menyelamatkan dirinya sendiri ketimbang warga lain. Seperti benalu yang tak peduli nasib inangnya.
     Teruntuk ruang nostalgia, Terima kasih dan maaf. Terima kasih untuk tiga bulan penuh warna. Terima kasih untuk satu minggu waktu eksklusif di tempat yang juga cukup eksklusif. Thanks for everything, juga untuk hal-hal non materil yang tanpa sadar sudah kalian berikan untuk saya. Maaf untuk semua keributan dan masalah yang sadar ataupun tanpa sadar telah saya buat. Maaf sudah banyak merepotkan kalian. Saya tahu menulis disini useless, tak ada artinya. Lagi-lagi, I just don't care. Bisa jadi mereka cukup kepo untuk mengintip ruang saya yang satu ini. Who knows? :p
 
Sedikit koreksi, ruang itu tak benar-benar tak bernama. Bukan juga 'Ruang Nostalgia'. Ia punya nama lain yang jauh lebih adorable. Kami biasa menyebutnya ‘Poskopang’, Posko Dinas Kesehatan II.

Poskopang :)

Kamar 708, Kamar Jomblo.

I got the Spices coupon, Lebih tepatnya semua orang dapat.

Jelajah Malam Jakarta

Apapun yang terjadi, kami tetap tersenyum :)

Ruang Nostalgia

by on 03.17
“Ku terjebak di ruang nostalgiaaaa….”        Ini bukan kali pertama saya merasa terjebak dalam suatu ruang tak bernama. Ya, lagi-lagi ...

     Semenjak magang waktu saya benar-benar habis dimakan kemacetan, ditelan kepenatan. Hari-hari saya penuh dengan menunggu. Menunggu antrian kendaraan, menunggu bus datang, menunggu bus yang ngetem sesukanya, menunggu klien yang datang konsultasi. Dari ke sekian banyak tentang menunggu, ada satu yang saya suka. Bukan, bukan menunggu the right one. Masih terlalu pagi untuk galau. Saya suka menunggu adzan Ashar. Karena itu tandanya waktu untuk berkemas dan bersiap pulang ><

      Nggak berasa, magang bakal berakhir dalam dua minggu lagi. So far, saya menikmatinya. Lucky me, bisa ketemu temen- temen 'Posko-pang' yang seru-seru. Di masa-masa gabut dulu, hari-hari di posko penuh dengan permainan. Mafia, Tepok nyamuk, Kartu Setan, 41, bahkan hanya bermodalkan jempol pun kita bisa 'bahagia'. Sekarang anak-anak udah mulai hectic dikejar deadline. Hari-hari kami sekarang penuh dengan rekonsiliasi.

      Still wondering, kenapa Jakarta dan sekitarnya macet banget. Kenapa angkutan transportasi masal nggak ada yang senyaman kendaraan pribadi. Busway dan Commuter Line memang not bad. Murah, gampang dijangkau, bebas macet (katanya). Tapi tetep aja memuakkan kalo harus nunggu hampir satu jam, berdesak-desakan ngelebihin ikan sarden. Mungkin Jakarta memang sudah overcapacity. Masa harus nunggu ada genosida dulu? atau nunggu serangan alien? Mungkin solusi terbaik hanya satu. Bersabar .___.

Complain

by on 17.27
     Semenjak magang waktu saya benar-benar habis dimakan kemacetan, ditelan kepenatan. Hari-hari saya penuh dengan menunggu. Menunggu...
 

Hai blog. Maaf lagi-lagi mengabaikanmu. Anyway ini postingan pertama saya setelah jadi alumni loh. *pamer*
Sepertinya saya mulai membutuhkanmu lagi. Para subtitusimu itu sudah mulai menemukan ‘dunia baru’nya masing-masing. Saya turut bahagia. Ya walaupun.. ya sudahlah. Intinya saya turut bahagia.




Posting Tengah Malam

by on 11.30
  Hai blog. Maaf lagi-lagi mengabaikanmu. Anyway ini postingan pertama saya setelah jadi alumni loh. *pamer* Sepertinya saya mulai mem...

" Menjadi diri sendiri tak lagi penting ketika berubah bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik"

Di akhir masa perkuliahan ini banyak orang-orang di sekitar saya yang tiba-tiba 'berubah'. Alhamdulillah, they're turned out to the right path. Agak aneh mungkin awalnya. Namun, overall, saya kagum dengan mereka yang mau berusaha keluar dari zona nyaman demi pribadi yang lebih baik. Meninggalkan hal-hal 'menyenangkan' yang sebelumnya ada di kamus bahagia mereka.

Tak jarang saya merasa 'tersentil', seperti diberi teguran oleh yang Maha Kuasa agar saya mengikuti langkah mereka. Unfortunetally, untuk orang berkepribadian cetak tebal macam saya, 'berubah' bisa jadi butuh berlipat-lipat effort dibanding orang biasa. Khususnya untuk hal-hal yang bersifat, genetik mungkin, atau bawaan. 'Sukar bukan berarti tak mungkin', begitu kata textbook. Tapi lagi-lagi, it's hard to do.

Sejauh ini saya masih mencoba berubah. Toh kenyataannya 'Everybody's changed'. Tanpa kita sadari, waktu, usia, lingkungan, sedikit banyak telah merubah kita menjadi pribadi yang berbeda. Dan perubahan macam ini walaupun bergerak lamban biasanya akan lebih konsisten karena melalui proses penyesuaian yang bertahap. Semoga kita semua terus berubah, moving on, ke jalan yang diridhoi-Nya tentu.
Aamiin Ya Rabbal Alamin :)

Metamorphosis

by on 07.41
" Menjadi diri sendiri tak lagi penting ketika berubah bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik" Di akhir masa ...

Hai blog.
Akhir-akhir ini agaknya saya sedang dituntut untuk belajar memahami arti sebuah keikhlasan. Keikhlasan nyatanya tidak semudah mengatakan ‘ saya ikhlas’, jauh lebih kompleks bahkan. Terkadang semakin kita mengaku ikhlas justru semakin hati kita mencari seribu satu alasan untuk berontak. Mungkin kita hanya harus lupa agar ikhlas. Unfortunetally, biasanya semakin kita berusaha untuk lupa semakin lekatlah ingatan tersebut di dalam benak. Di titik ini bisa jadi kita justru akan berputar-putar dalam sebuah lingkaran setan yang entah dimana ujungnya.

Lain halnya ketika kita telah memahami hikmah dari suatu kejadian. Bisa jadi ikhlas semudah mengatakan ‘saya ikhlas’. Tapi lagi-lagi, unfortunetally, hikmah tak selalu datang berbarengan. Ia mungkin baru akan muncul setelah bertahun-tahun.

Berbicara tentang ikhlas, saya jadi ingat perkataan seorang dosen di salah satu sesi perkuliahan, tepatnya saat games kekompakan. Kira-kira seperti ini,

 “Di dalam sebuah permainan, pihak yang menang akan terkesan selalu benar apapun statement yang mereka katakan. Dan sebaliknya, pihak yang kalah cenderung dinilai salah tidak peduli apa statement yang mereka berikan.”

Ya, ikhlas memang tidak didapat dari perkataan. Jika kamu ikhlas cukup simpan perkataan ‘saya ikhlas’ di dalam benak. Renungkan berbagai hal baik yang mungkin muncul sebagai jawaban dari seribu satu alasan yang terlontar oleh hati.

Ikhlas

by on 01.54
Hai blog. Akhir-akhir ini agaknya saya sedang dituntut untuk belajar memahami arti sebuah keikhlasan. Keikhlasan nyatanya tidak semudah ...

    Saya, atau mungkin hampir semua orang pasti tidak menikmati menunggu, khususnya menunggu hal yang tidak pasti. Contoh sederhananya, kamu sedang terlibat janji dengan seseorang atau sekelompok orang di jam dan tempat tertentu. Di hari H kamu telah berada di tempat dan waktu yang telah ditentukan tanpa ada tanda-tanda kehidupan dari sang empunya janji. Soal jam karet mau tidak mau memaksa kita untuk maklum, tapi part yang paling menyebalkan adalah ketika orang-orang seakan out of reach, berada ratusan juta tahun cahaya dari planet ini, tanpa kabar dan tanpa konfirmasi. Teknologi sekarang sudah canggih, bukan? Ada banyak cara komunikasi yang murah meriah. Tak perlu lagi yang namanya mengirim surat via merpati. Tinggal ketik beberapa digit karakter, sent!, beres. Smartphone jutaan rupiah itu kehabisan pulsa? Memang ironis. Di masa ini, banyak fungsi sekunder atau bahkan tersier yang menggeser fungsi primer-nya yang tentunya lebih vital. Layaknya fashion yang mengalahkan fungsi hijab dan pakaian sebagai penutup aurat dan pelindung tubuh.

Apa lantas saya innocent? Tidak, bisa jadi saya jauh lebih annoying. Mari kita sama-sama berbenah diri :)

Out of Reach

by on 06.04
    Saya, atau mungkin hampir semua orang pasti tidak menikmati menunggu, khususnya menunggu hal yang tidak pasti. Contoh sederhananya...
Hai, blog.

Long time no see. Saya seperti mulai kehabisan kata. Atau mungkin kata yang mulai meninggalkan saya. Actually, I had nothing to share lately :v

     Aniway, saya baru selesai mid-semester, blog. Ada yang sedikit berbeda dari ujian kali ini. Salah satu ujian mata kuliah dilakukan ‘take home’. Don’t you think that easy! Tugasnya adalah membuat rancangan intermediate & final goal dalam karir dan kehidupan. Butuh imaginasi tingkat dewa untuk orang ‘let go with the flow’ macam saya. Terlalu panjang untuk saya share disini, jadi saya hanya akan sharing soal salah satu  intermediate goal standard di kalangan mahasiswa. Ya, menikah.

     I'm always curious about what kind of person that will be my partner in life. Saking penasarannya, ingin rasanya meminjam mesin waktu milik Doraemon untuk memastikan bahwa dia adalah orang yang tepat. Semua pasti berharap yang terbaik. Definitely. Nantinya bersama dia lah kamu akan menghabiskan sisa hidup. Tetapi yang lebih pasti adalah Allah pasti akan memberikan yang terbaik bagi Hamba-Nya, dengan jalan-Nya sendiri.

     Bicara soal menikah erat kaitannya dengan makhluk Mars. Sepertinya memang sudah kodrat para Makhluk Mars mendambakan kecantikan ya, blog. Seperti halnya Makhluk Venus yang mendambakan kemapanan. Dan agaknya memang benar apa yang Maruko (chibi maruko chan, red) bilang, “Beautiful girl get more benefit.. -______-”    Di balik itu, saya tetap bersyukur dianugrahi rupa yang 'kurang' cantik. Mengutip salah satu  Buku karangan Tereliye- Berjuta Rasanya,

“Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.”

Well, mungkin itu hanya sebuah pembelaan dari orang macam saya. I do.

     Berhubung jangka waktu intermidiate target masih sekitar lima tahun lagi, saat ini saya memilih untuk memperbaiki kualitas diri dan berkawan dengan sekitar. Agaknya menghabiskan banyak waktu dengan orang yang belum tentu tepat di tengah ketidakpastian bukan lah pilihan yang tepat. Ya, sekali lagi, mungkin ini hanya sebuah pembelaan dari orang macam saya. :v

An Excuse

by on 07.52
Hai, blog. Long time no see . Saya seperti mulai kehabisan kata. Atau mungkin kata yang mulai meninggalkan saya. Actually, I had not...

     Saya ingin punya mesin waktu. Bukan, saya tidak terbesit sedikitpun untuk mengubah masa lalu. Mengubahnya hanya akan mengacaukan dimensi waktu yang saya sendiri pun tidak mengerti apa itu. Saya hanya ingin kembali menyaksikan momen-momen tertentu yang bahkan sangat tidak material. Andai saja mesin waktu di otak saya ini mampu membawa saya kesana. Sayangnya tidak, ia semakin terbatas, semakin reot dimakan usia.
      Ya, sekarang saya hampir kepala dua. Mungkin kepala dua juga yang membuat saya akhir-akhir ini sangat merindukan masa kanak-kanak. Saya akui saya hari ini, detik ini tidaklah jauh berbeda dengan 10 tahun lalu. Baik rupa ataupun perangai. Masih mungil (bentuk halus dari pendek) dan kekanak-kanakan mungkin. Atau memang? Jika definisi kekanak-kanakan adalah main abc lima dasar saat jam pelajaran  maka saya exactly childish.
      Saya rindu bernyanyi lagu india sambil berlagak bak artis bollywood, bernyanyi kuda lumping sambil bergelayutan di atas pohon singkong kayu, bernyanyi lagu ‘hello dangdut’ sambil berjoged ria, bersama teman sepermainan tentunya.
     Saya rindu bermain masak-masakan. Lidah buaya, bunga pacar dan tanaman tetangga lainnya selalu sukses jadi korban. Dan saya paling suka tanaman buah-buahan, entah nama sebenarnya apa. Tanaman yang punya, entah buah atau biji, sebesar biji jeruk berwarna orange serta bunga yang berwarna ungu.
      Saya rindu bermain di kebun (alias kebon). Kebon ini bukan sembarang kebon. Untuk kesana kita harus lewat semacam rawa becek , butuh effort lebih. Tapi terbayar sudah saat sampai disana. Ada banyak pohon kapuk, singkong, jambu. Juga ada lapangan bola. Sayangnya sekarang rawa becek itu telah disulap menjadi tempat sampah. Pohon kapuk, singkong, jambu, lapangan bola, telah diubah menjadi pasar swalayan, yang bahkan sekarang sudah mengalami kebangkrutan.

       I absolutely didn’t regret that I spend my childhood there, jadi anak kampung, kampung legon tepatnya. Dan masih, saya ingin punya mesin waktu.

Time Machine

by on 13.30
     Saya ingin punya mesin waktu. Bukan, saya tidak terbesit sedikitpun untuk mengubah masa lalu. Mengubahnya hanya akan mengacaukan ...

     Saya bukan seorang penulis yang dapat merajut kata hanya dengan bermodalkan pena. Saya hanya seseorang yang ingin merasa bebas tanpa mengganggu kebebasan orang lain. Dan baru-baru ini saya sadar jika saya tak selamanya ingin bebas. Kadang mengikatkan diri pada sesuatu dapat menjadi tameng dari berbagai monster berkedok, menjadi pedoman agar tidak bertindak sesuka hati. Dan baru-baru ini juga saya merasa ikatan tersebut hanya sebuah sugesti, ambisi tanpa didasari intuisi. Saya seperti takut bebas dan terlanjur nyaman dengan Goa Plato saya yang satu itu tanpa peduli banyak hal baik lain yang mungkin ada, mungkin juga tidak.

     Actually, saya masih berharap saya bisa mengendalikan organ saya yang satu ini. I  wanna stay here, the place that I wanna meant to be. Tempat dimana saya tidak takut jatuh. Tempat dimana saya mau berusaha menjadi lebih baik tanpa harus berpura-pura jadi orang lain. Tempat dimana saya percaya bahwa segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar.

The Finest Place

by on 13.18
     Saya bukan seorang penulis yang dapat merajut kata hanya dengan bermodalkan pena. Saya hanya seseorang yang ingin merasa bebas ta...
     Setiap orang, saya yakin punya mood booster-nya masing-masing. Mood booster disini tidak berbatas pada kata ‘noun’ tapi bisa juga berbentuk suatu hal atau kejadian yang baik langsung ataupun tidak dapat mem-‘boom’-kan semangat kita ke titik tak terhingga. Agak sulit memang menemukannya. Terlebih cara kerja Mood Booster milik saya yang layaknya seorang Nanny Mc.Phee

“When you need me but you do not want me, I must stay. When you want me but no longer need me, then I have to go”

     Sepertinya saya memang harus segera mencari subtitusi atau komplementer-nya , mengingat aura negative di sekeliling saya yang semakin pekat akhir-akhir ini. So far, I’m  still trying. But I think mine is one of the best ever.

Mood Booster

by on 09.57
     Setiap orang, saya yakin punya mood booster -nya masing-masing. Mood booster disini tidak berbatas pada kata ‘ noun ’ tapi bisa jug...
kids.nationalgeographic.com

“Kedua kutub magnet yang sejenis akan saling tolak-menolak jika didekatkan. Sebaliknya, kedua kutub magnet yang berlawanan akan saling tarik-menarik jika didekatkan.”

     Semua barang tentu sudah tau tentang  hukum ini, bahkan beberapa anak sekolah dasar. Saya sendiri sebenarnya agak heran dengan pernyataan yang satu ini. Apalagi jika menkonklusikannya dengan sebuah realitas sederhana. Seperti, bukankah seekor sapi akan lebih nyaman berdekatan dengan sapi lainnya, membentuk populasi, hidup bersama.. Pun, bukankah orang-orang lebih mudah bersosialisasi dengan adanya kesamaan karakter atau hobi..

     Namun, baru-baru ini  saya berhasil menemukan, lebih tepatnya menyadari, lagi-lagi sebuah realitas sederhana . Orang berego tinggi, jika dihadapkan dengan sesamanya pasti akan menghasilkan kombinasi yang buruk, ledakan, chaos, atau apapun namanya itu. Dalam mencari tulang rusuknya, manusia juga cenderung mencari seseorang dengan ‘sisi lainnya’. Walaupun di beberapa kasus, manusia mencari replika dirinya tetapi hal tersebut tak jarang membuat ia terjebak dalam imajiner dirinya sendiri. Bahkan dalam riwayat, anak Nabi Adam As pun dengan jelas dilarang Allah untuk menikahi saudari kembarnya. Dan berkembangnya zaman telah membuktikan alasan hal tsb secara ilmiah, jika dua orang yang masih dalam hubungan keluarga menikah, sifat-sifat resesif dalam gen keduanya dapat membahayakan si bayi.
 
     Filosofi magnet ini mengajarkan saya akan satu hal. Terkadang, beberapa hal yang beda sama sekali justru dapat bersatu-padu dan sebaliknya beberapa hal yang identik tidak ditakdirkan bersatu.

Karena perbedaan itu indah, blog. :)

Filosofi Magnet

by on 13.31
kids.nationalgeographic.com “Kedua kutub magnet yang sejenis akan saling tolak-menolak jika didekatkan. Sebaliknya, kedua kutub magn...

Dear Neptunus...
Aku mencintainya.
Di depannya aku menjadi diriku sendiri.
Seperti airmu yang selalu membawa semua pesanku.
dia pun begitu.
Membuatku hanyut oleh sorot matanya.
membuatku lupa oleh kesedihan dengan suaranya.
sampai aku tak bisa katakan apa apa padanya.
bahkan untuk sekedar bilang rinduuu.. atau butuh.

Banyak yang gak ngerti, lalu terluka dan saling menyalahkan.
Karena itu, aku takut bicara tentang hati.
Maka, aku tuliskan saja.
Ku simpan, mungkin kukirimkan... entah kemana.
     Bahagia itu sederhana. Bahagia sama dengan tawa. Bahagia adalah ketika mendapat mainan baru. Bahagia adalah ketika menang bermain monopoli. Bahagia adalah punya banyak uang. Setidaknya itu lah yang ada di benak saya beberapa belas  tahun lalu, saat masih kanak-kanak. Kini, waktu sedikit banyak telah memetamorfosiskan makna ‘bahagia’ di otak saya. Bahagia masih sederhana tetapi terkadang sebaliknya, bahagia itu kompleks. Sekompleks persamaan Bernaouli. Namun, masih ada hal yang lebih kompleks dari bahagia, yaitu membuat orang lain bahagia.  
     Bahagia akan menjadi sederhana ketika kita mengerti apa esensi dari ‘bahagia’ itu sendiri. Begitu pun dengan membuat orang lain bahagia. Kebahagiaan layaknya intangible asset, tidak berwujud tetapi dapat melahirkan manfaat. Satu hal yang harus kita garis bawahi, kebahagiaan tidak dapat diukur secara reliable. Sampai saat ini belum ada ahli yang dapat merumuskan kebahagiaan secara matematis, bahkan Enstein sekalipun. Mungkin itu lah yang menyebabkan kebahagiaan tidak dikategorikan sebagai aset keuangan.
     Lalu, apa itu bahagia? Menurut saya, bahagia merupakan salah satu bentuk positif dari perasaan. Ia tidak akan hadir jika kita mencarinya. Semakin kita mencari, ia akan semakin menjauh. Kita hanya harus merasakan kehadirannya. Bahagia juga dapat dikatakan sebagai ketiadaan kesedihan. Jika ingin bahagia, sejenak kita harus melupakan kesedihan.
    Saya tidak tahu pasti apa yang membuat orang lain bahagia, apalagi caranya. Seperti kata pepatah, “ Dalamnya laut dapat diukur. Namun hati orang, tak ada yang tahu”. Tidak ada parameter yang dapat dijadikan acuan sebagai pengukur tingkat kebahagiaan seseorang. Partikel bahagia pun tidak dapat terlihat hanya dengan benda sekelas mikroskop. Bahkan tidak dengan peralatan tercanggih abad ini. Oleh karena itu, Saya hanya dapat menerka-nerka lewat benih  bahagia. Seperti halnya tanaman, bahagia juga membutuhkan benih agar dapat tumbuh. Namun, pertumbuhannya juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Faktor-faktor lain ini lah yang membuat orang tidak merasa dirinya bahagia.
     Membuat orang lain bahagia dapat dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu, seperti memberikan senyuman kepada orang lain ataupun memberikan salam kepada orang-orang sekitar. Dengan perlakuan seperti itu, mereka akan merasa teristimewa, diperhatikan, dan diakui keberadaannya. Tumbuh lah satu benih bahagia.
     Di tingkat yang lebih tinggi, membahagiakan orang lain dapat dilakukan dengan memberikan pujian (achievement) atas prestasi yang telah dicapainya. Hal ini akan membuat mereka merasa bangga akan dirinya. Tumbuh lah benih bahagia kedua.
    Kejutan tidak selamanya buruk. Tidak ada salahnya jika kita sesekali memberikan kejutan kepada orang-orang yang kita sayangi, Baik berupa kejutan ulang tahun ataupun sekedar ucapan-ucapan yang dapat membangkitkan semangatnya. Sama seperti contoh pertama, hal ini membuat seseorang merasa teristimewa.
    Ada kalanya orang-orang di sekitar kita membutuhkan bantuan. Alangkah baiknya jika kita bersedia membantu tanpa atau sebelum mereka memintanya. Untuk itu, kita harus peka dan sensitif terhadap lingkungan sekitar. Dengan begitu, mereka akan merasa dimengerti. Tumbuh lah benih bahagia ketiga.
     Ketika orang yang kita sayangi bersedih ataupun merasa kecewa akan suatu pencapaian. Disana lah kita harus memberikannya suntikan semangat dan motivasi. Dengan begitu, mereka dapat bangkit dari keterpurukan dan kadar kesedihannya berkurang sampai titik nol. Saat itu lah benih bahagia lain tumbuh.
   Dari beberapa contoh di atas, saya menyimpulkan bahwa ada enam cara menumbuhkan benih bahagia. Yaitu:
1.    Membuat orang lain merasa teristimewa
2.    Membuat mereka merasa diakui keberadaannya
3.    Membuat orang lain merasa bangga akan dirinya
4.    Memberikan perhatian kepada orang lain
5.    Mengerti dan memahami keadaan orang lain, dan
6.    Memberikan orang lain semangat dan motivasi.
    Namun, keenam hal di atas saja belum cukup. Dibutuhkan pula keluwesan hati dari kedua belah pihak yang terlibat. Jika hati kita telah tertutupi oleh kabut tebal, kebahagian tidak akan mampu menembus masuk sebelum kita menyibakkan kabut tersebut. Menyibakkan kabut tebal tersebut sebenarnya bukan perkara sulit jika kita mau. Sejak bahagia merupakan bentuk positif perasaan, kita hanya harus berpikir positif untuk dapat menyuburkan benih bahagia yang telah tertanam. Berpikir positif ibarat pupuk khusus untuk benih bahagia. Jika kita memberi pupuk ‘berpikir positif’ benih bahagia secara rutin, niscaya kebahagiaan akan tumbuh dengan subur dalam hati kita. Salah satu bentuk berpikir positif adalah dengan cara bersyukur akan nikmat yang telah Tuhan berikan. Dengan begitu, kita akan lebih mawas diri.
     Secara substansi, bahagia adalah bagian dari perasaan. Dan perasaan hanya lah dapat dirasa. Itulah yang membuat kebahagiaan tidak dapat dicari, Kita hanya perlu merasakannya. Dan jika kita sadar, kebahagiaan yang hakiki sebenarnya adalah membuat orang lain bahagia.

Benih Bahagia

by on 13.53
     Bahagia itu sederhana. Bahagia sama dengan tawa. Bahagia adalah ketika mendapat mainan baru. Bahagia adalah ketika menang bermain mo...