Tampilkan postingan dengan label Pelajaran hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelajaran hidup. Tampilkan semua postingan


   Beberapa waktu  lalu Indonesia dihebohkan dengan demo beberapa jilid terkait penistaan agama oleh  seorang  (mantan) kepala daerah. Kasus tsb membuat saya sadar dan bangga betapa guyub-nya umat islam. Sayangnya rasa bangga itu sedikit terkikis kecewa dengan adanya  indikasi tunggangan kepentingan politik. Ya karena momentum pilkada.

    Agama memang hal yang sensitif. Dan buat saya mencampur agama dan politik di negeri  bhineka tunggal ika ini dengan porsi sama besar bukan hal yang pas. In My Opinion, agama itu tak lantas nista karena dihina atau dicerca orang. Ya tapi bukan juga berarti membenarkan aksi pihak  yang entah  sengaja/tidak sengaja missleading saat kunjungan kerja itu.Terlalu out of date ya kalo masih bahas kasus itu. Ibarat berputar di timeloop yang nggak ada ujungnya.

    Buat saya The real-penistaan agama (agama islam,red) itu saat kita sebagai umat islam melakukan hal-hal nista/diluar syariat islam. Ya contohnya ada pemeluk agama islam yang mencuri/menipu orang/berzinah/jadi teroris. Di tengah isu agama yang sensitif ini, pasti akan ada satu-dua orang (bisa langsung ribuan orang bahkan kalo di media sosial) yang nyeletuk “Orang islam, maling?” “Orang islam, teroris?” ..... dst. Yang kayak gini ini lebih menistakan agama gak sih? Bikin agama islam jadi terlihat buruk. Padahal kan islam nikmat bagi seluruh alam.

  Di zaman digital sekarang kayaknya ‘kekuatan jempol’ masyarakat berpengaruh penting buat kondisi bangsa dan negara ya? ‘Demokratis’nya masyarakat seakan sudah dalam tahap tidak wajar kalo kebetulan lihat timeline facebook banyak hinaan dan makian untuk pemimpin negara, apalagi lihat perang komentar saat kisruh pilkada kemarin. Semua seakan paling benar, padahal yang menghina belum tentu lebih baik, lebih kompenten dan lebih religi. Kisruh pilpres beberapa tahun lalu sedikit-banyak buat saya jadi apatis dengan ‘politik’. Habisnya daripada energi saya terbuang, hubungan dengan keluarga dan kerabat jadi renggang dan nambah dosa karena semakin kesini politik disini itu semakin nggak sehat. Dan itulah awal mula saya kecanduan Drama Korea :p  Sudah cukup waktu 5/7 hari untuk ‘mengabdi’ pada negara.

   Btw asal mula tulisan ini itu karena saya barusan baca komentar pedas netizen di salah satu situs berita nasional tentang Penipuan Umroh yang lagi heboh. Ya, the real-penistaan agama. Di tengah kekecewaah calon jamaah ada netizen yang berkomentar  ‘jangan menyalahkan orang lain, salah sendiri buat ibadah cari yang murah’...... walaupun ada benarnya, buat saya berkomentar semacam ini bukanlah hal yang tepat. Mengambil yang bukan berhak & tidak menepati akad bagaimana pun ya tetap salah. Dan ada yang namanya empati lho.

Ya, unfortunately I am one of 35.000


pict source : www.religlaw.org

Penistaan Agama

by on 08.07
   Beberapa waktu  lalu Indonesia dihebohkan dengan demo beberapa jilid terkait penistaan agama oleh  seorang  (mantan) kepala daera...
Source: picturesof.net

     Complaining. Itu sudah jadi rutinitas saya selama sebulan terakhir ini. Mengeluh ini itu seperti orang paling sengsara di dunia. Baru-baru ini saya sadar betapa tidak bersyukurnya diri ini. Saya kira mengeluh akan membuat pikiran saya lebih bebas tekanan, ternyata tidak juga demikian. Maybe I just spread the darkness.
      Berawal dari suatu kondisi dimana semuanya sebenarnya baik-baik saja, justru saya yang menganggap hal tersebut terlalu monoton. Mulai mengeluh dan mengeluh.
       Kemudian saya dibawa  di scene berbeda dengan latar dan setting yang juga berbeda. Tidak semonoton di kondisi pertama memang. Tapi ini sangat hectic, terlalu cepat dan lelah untuk bisa saya ikuti. ‘I’ve had enough’ Pikirku waktu itu.
     Sekarang saya ada di scene baru dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya mulai menikmati hal-hal yang dulu saya anggap monoton. Mulai nyaman dengan ‘kesakralan’ yang ada. Kecuali satu hal, satu hal yang mengganjal hati. Semoga hal itu hanya perasaanku saja. 

Honestly, saya mulai bosan mengeluh kesana-kemari. Memang sudah kodratnya manusia tidak pernah merasa puas, tapi tetap saja. Seharusnya saya tidak begitu saja membiarkannya membabat habis mood saya. Mengeluh bisa jadi tak ada  gunanya. Mungkin saya hanya harus legowo. Just enjoy the show.

The Show

by on 06.42
Source: picturesof.net      Complaining . Itu sudah jadi rutinitas saya selama sebulan terakhir ini. Mengeluh ini itu seperti orang ...
kids.nationalgeographic.com

“Kedua kutub magnet yang sejenis akan saling tolak-menolak jika didekatkan. Sebaliknya, kedua kutub magnet yang berlawanan akan saling tarik-menarik jika didekatkan.”

     Semua barang tentu sudah tau tentang  hukum ini, bahkan beberapa anak sekolah dasar. Saya sendiri sebenarnya agak heran dengan pernyataan yang satu ini. Apalagi jika menkonklusikannya dengan sebuah realitas sederhana. Seperti, bukankah seekor sapi akan lebih nyaman berdekatan dengan sapi lainnya, membentuk populasi, hidup bersama.. Pun, bukankah orang-orang lebih mudah bersosialisasi dengan adanya kesamaan karakter atau hobi..

     Namun, baru-baru ini  saya berhasil menemukan, lebih tepatnya menyadari, lagi-lagi sebuah realitas sederhana . Orang berego tinggi, jika dihadapkan dengan sesamanya pasti akan menghasilkan kombinasi yang buruk, ledakan, chaos, atau apapun namanya itu. Dalam mencari tulang rusuknya, manusia juga cenderung mencari seseorang dengan ‘sisi lainnya’. Walaupun di beberapa kasus, manusia mencari replika dirinya tetapi hal tersebut tak jarang membuat ia terjebak dalam imajiner dirinya sendiri. Bahkan dalam riwayat, anak Nabi Adam As pun dengan jelas dilarang Allah untuk menikahi saudari kembarnya. Dan berkembangnya zaman telah membuktikan alasan hal tsb secara ilmiah, jika dua orang yang masih dalam hubungan keluarga menikah, sifat-sifat resesif dalam gen keduanya dapat membahayakan si bayi.
 
     Filosofi magnet ini mengajarkan saya akan satu hal. Terkadang, beberapa hal yang beda sama sekali justru dapat bersatu-padu dan sebaliknya beberapa hal yang identik tidak ditakdirkan bersatu.

Karena perbedaan itu indah, blog. :)

Filosofi Magnet

by on 13.31
kids.nationalgeographic.com “Kedua kutub magnet yang sejenis akan saling tolak-menolak jika didekatkan. Sebaliknya, kedua kutub magn...
     Bahagia itu sederhana. Bahagia sama dengan tawa. Bahagia adalah ketika mendapat mainan baru. Bahagia adalah ketika menang bermain monopoli. Bahagia adalah punya banyak uang. Setidaknya itu lah yang ada di benak saya beberapa belas  tahun lalu, saat masih kanak-kanak. Kini, waktu sedikit banyak telah memetamorfosiskan makna ‘bahagia’ di otak saya. Bahagia masih sederhana tetapi terkadang sebaliknya, bahagia itu kompleks. Sekompleks persamaan Bernaouli. Namun, masih ada hal yang lebih kompleks dari bahagia, yaitu membuat orang lain bahagia.  
     Bahagia akan menjadi sederhana ketika kita mengerti apa esensi dari ‘bahagia’ itu sendiri. Begitu pun dengan membuat orang lain bahagia. Kebahagiaan layaknya intangible asset, tidak berwujud tetapi dapat melahirkan manfaat. Satu hal yang harus kita garis bawahi, kebahagiaan tidak dapat diukur secara reliable. Sampai saat ini belum ada ahli yang dapat merumuskan kebahagiaan secara matematis, bahkan Enstein sekalipun. Mungkin itu lah yang menyebabkan kebahagiaan tidak dikategorikan sebagai aset keuangan.
     Lalu, apa itu bahagia? Menurut saya, bahagia merupakan salah satu bentuk positif dari perasaan. Ia tidak akan hadir jika kita mencarinya. Semakin kita mencari, ia akan semakin menjauh. Kita hanya harus merasakan kehadirannya. Bahagia juga dapat dikatakan sebagai ketiadaan kesedihan. Jika ingin bahagia, sejenak kita harus melupakan kesedihan.
    Saya tidak tahu pasti apa yang membuat orang lain bahagia, apalagi caranya. Seperti kata pepatah, “ Dalamnya laut dapat diukur. Namun hati orang, tak ada yang tahu”. Tidak ada parameter yang dapat dijadikan acuan sebagai pengukur tingkat kebahagiaan seseorang. Partikel bahagia pun tidak dapat terlihat hanya dengan benda sekelas mikroskop. Bahkan tidak dengan peralatan tercanggih abad ini. Oleh karena itu, Saya hanya dapat menerka-nerka lewat benih  bahagia. Seperti halnya tanaman, bahagia juga membutuhkan benih agar dapat tumbuh. Namun, pertumbuhannya juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Faktor-faktor lain ini lah yang membuat orang tidak merasa dirinya bahagia.
     Membuat orang lain bahagia dapat dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu, seperti memberikan senyuman kepada orang lain ataupun memberikan salam kepada orang-orang sekitar. Dengan perlakuan seperti itu, mereka akan merasa teristimewa, diperhatikan, dan diakui keberadaannya. Tumbuh lah satu benih bahagia.
     Di tingkat yang lebih tinggi, membahagiakan orang lain dapat dilakukan dengan memberikan pujian (achievement) atas prestasi yang telah dicapainya. Hal ini akan membuat mereka merasa bangga akan dirinya. Tumbuh lah benih bahagia kedua.
    Kejutan tidak selamanya buruk. Tidak ada salahnya jika kita sesekali memberikan kejutan kepada orang-orang yang kita sayangi, Baik berupa kejutan ulang tahun ataupun sekedar ucapan-ucapan yang dapat membangkitkan semangatnya. Sama seperti contoh pertama, hal ini membuat seseorang merasa teristimewa.
    Ada kalanya orang-orang di sekitar kita membutuhkan bantuan. Alangkah baiknya jika kita bersedia membantu tanpa atau sebelum mereka memintanya. Untuk itu, kita harus peka dan sensitif terhadap lingkungan sekitar. Dengan begitu, mereka akan merasa dimengerti. Tumbuh lah benih bahagia ketiga.
     Ketika orang yang kita sayangi bersedih ataupun merasa kecewa akan suatu pencapaian. Disana lah kita harus memberikannya suntikan semangat dan motivasi. Dengan begitu, mereka dapat bangkit dari keterpurukan dan kadar kesedihannya berkurang sampai titik nol. Saat itu lah benih bahagia lain tumbuh.
   Dari beberapa contoh di atas, saya menyimpulkan bahwa ada enam cara menumbuhkan benih bahagia. Yaitu:
1.    Membuat orang lain merasa teristimewa
2.    Membuat mereka merasa diakui keberadaannya
3.    Membuat orang lain merasa bangga akan dirinya
4.    Memberikan perhatian kepada orang lain
5.    Mengerti dan memahami keadaan orang lain, dan
6.    Memberikan orang lain semangat dan motivasi.
    Namun, keenam hal di atas saja belum cukup. Dibutuhkan pula keluwesan hati dari kedua belah pihak yang terlibat. Jika hati kita telah tertutupi oleh kabut tebal, kebahagian tidak akan mampu menembus masuk sebelum kita menyibakkan kabut tersebut. Menyibakkan kabut tebal tersebut sebenarnya bukan perkara sulit jika kita mau. Sejak bahagia merupakan bentuk positif perasaan, kita hanya harus berpikir positif untuk dapat menyuburkan benih bahagia yang telah tertanam. Berpikir positif ibarat pupuk khusus untuk benih bahagia. Jika kita memberi pupuk ‘berpikir positif’ benih bahagia secara rutin, niscaya kebahagiaan akan tumbuh dengan subur dalam hati kita. Salah satu bentuk berpikir positif adalah dengan cara bersyukur akan nikmat yang telah Tuhan berikan. Dengan begitu, kita akan lebih mawas diri.
     Secara substansi, bahagia adalah bagian dari perasaan. Dan perasaan hanya lah dapat dirasa. Itulah yang membuat kebahagiaan tidak dapat dicari, Kita hanya perlu merasakannya. Dan jika kita sadar, kebahagiaan yang hakiki sebenarnya adalah membuat orang lain bahagia.

Benih Bahagia

by on 13.53
     Bahagia itu sederhana. Bahagia sama dengan tawa. Bahagia adalah ketika mendapat mainan baru. Bahagia adalah ketika menang bermain mo...

   "   Semakin banyak kita tahu, akan semakin bijak kita bersikap ",   Sebuah pelajaran yang aku dapat dari dua berita yang banyak menyita perhatian publik akhir-akhir ini, Kasus yang menjerat Dhana Widyatmika, PNS yang diduga memiliki rekening gendut, serta Demonstrasi yang digelar diberbagai daerah akibat rencana pemerintah dalam menaikan harga BBM.

Aku memang bukan orang yang mengerti dunia politik, jadi postingan kali ini mungkin akan lebih banyak didasarkan pada ilmu 'sok tau'  :)

     Aku bahas satu per satu ya, blog. Yang pertama  tentang kasusnya Om Dhana (entahlah sejak kapan dia nikah sama tante gue hehe). Entah kenapa aku ngerasa ada beberapa hal yang janggal dalam kasus ini. Dari mulai jumlah rekening sebenarnya yang sampai saat ini belum jelas ,sampai dengan pemberitaan di beberapa media yang tidak berimbang serta terkesan memojokan pihak DW. Bukan karena aku satu almamater dengan dia tapi mungkin lebih karena aku tahu profil DW pernah dimuat di sebuah Majalah Islam. Check it out!
Memang terlalu polos untuk percaya begitu saja hanya karena sebuah tulisan yang diterbitkan sekitar 5 tahun lalu itu. Everybody's changing, it's true. Tapi aku pikir jika dia saja bisa dibilang rela mengorbankan kuliah atau bahkan masa depannya demi ibunya, untuk apa dia mengejar sesuatu yang bukan haknya. Apalagi dengan pemberitaan yang masih sangat simpang siur semakin membuyarkan kasus ini.
Tadi sore aku menyaksikan wawancara istri DW di salah satu stasiun TV. Jelas sekali perbedaannya dengan istri Gayus, PNS yang telah lebih dulu tersangkut kasus korupsi.
1. Istri DW pake jilbab, istri Gayus nggak.
2. Istri DW hampir menitikan air mata
3. Dandanannya cukup sederhana untuk ukuran orang kaya
Di wawancara itu aku baru tau kalo ternyata mobil mewah milik DW dibeli untuk mendapatkan kenaikan nilai, semacem investasi gitu. Make sense lah.

     Aku tahu politik di negeri ini tuh kompleks banget. Pihak yang dihakimi salah belum tentu salah. Pihak yang diyakini benar pun belum tentu benar. Bukan rahasia lagi jika hukum di negeri ini bisa dibeli. Tapi bukan rahasia juga jika terkadang ada sandiwara dibalik permainan politik. Jadi, walaupun aku agak sangsi dengan kasus DW, aku nggak bisa bilang kalo dia nggak bersalah. Seperti yang sebelumnya aku bilang, 'everybody's changing' :)
Semoga kebenaran  segera terungkap ya, blog.

     Yang kedua, tentang kenaikan harga BBM. Ya wajar aja sih kalo banyak demo gara-gara hal ini, mengingat BBM itu sangat krusial dalam kehidupan sehari-hari.Kenaikannya pasti akan berujung pada inflasi. Tapi kalo inget tugas makalah Makro ekonomi-ku untuk menganalisis pembatasan subsidi BBM, kayaknya kebijakan itu yang paling mudah diterapkan di Negara ini. Dosenku juga sempet menjelaskan tentang beberapa opsi yang dapat dilakukan pemerintah.

1. Pembatasan BBM bersubsidi untuk kendaraan mewah.
     Konsekuensinya:  Para supir angkot akan beralih profesi menjadi pedagang bensin eceran. Logikanya, mereka akan lebih mudah menghasilkan pundi-pundi uang dengan menjual bensin yang ada dalam angkot mereka tanpa capek-capek dan berpanas-panasan. Efeknya, pembatasan pun akan tidak efektif.
2. Beralih ke BBG
    Hal ini tentunya tidak dapat dilakukan dalam sekejap. Dibutuhkan waktu dan tentunya dana yang jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit.
3. Kenaikan harga BBM
    Memang kebijakan ini dapat menimbulkan inflasi, namun nantinya perekonomian akan kembali stabil dengan adanya invisible hand.

     Kasus yang pertama memberiku pelajaran untuk tidak menilai seseorang hanya dari satu sisi saja. Kasus yang kedua membuatku sadar bahwa membuat kebijakan untuk orang banyak bukanlah perkara yang mudah. Ada biaya-biaya yang harus kita korbankan, semacem Opportunity cost gitu. Keduanya membuatku sadar agar lebih bijak dalam berpendapat. If we know, actually that's not a simple thing.



Perahu Kertas

     Tangannya serta-merta menunjuk ke arah rak buku tempat koleksi komik dan buku dongengnya berbaris rapi, demi mengalihkan pembicaraan. “Ini sebagian kecil koleksiku. Yang di rumah
jauh lebih banyak.”
“Kata Eko, kamu suka nulis dongeng, ya?”
“Iya. Hobi sejak kecil.”
“Tulisan kamu udah banyak?”
“Kalau kuantitas sih banyak, tapi pembaca nggak ada.
Dan bukannya tulisan baru bermakna kalau ada yang baca?”
Kugy tertawa kecil, “Sejauh ini sih cuma dinikmati sendiri aja.”
“Kenapa gitu?”
“Siapa sih yang mau baca dongeng?” Kugy terkekeh lagi.
“Mungkin aku harus jadi guru TK dulu, supaya punya pembaca. Minimal dongengku bisa dibacakan di kelas.”
“Banyak penulis cerita dongeng yang bisa terkenal, dannggak harus jadi guru TK dulu untuk punya pembaca.”
Senyum simpul mengembang di wajah Kugy, seolah-olah hendak menjawab pertanyaan klasik yang sudah ia hafal mati jawabannya. “Keenan, umurku 18 tahun, kuliah jurusan Sastra, kepingin jadi penulis serius dan dihargai sebagai penulis serius. Orang-orang di lingkunganku kepingin jadi juara menulis cerpen di majalah dewasa, atau juara lomba novel Dewan Kesenian Jakarta, dan itu menjadi pembuktianyang dianggap sah. Sementara isi kepalaku cuma Pangeran Lobak, Peri Seledri, Penyihir Nyi Kunyit, dan banyak lagi tokoh-tokoh sejenis. Di umurku, harusnya aku nulis kisah cinta, kisah remaja, kisah dewasa ....”
“Banyak cerita dongeng yang isinya kisah cinta.”
“Intinya adalah: semua itu nggak matching! Antara umurku, profilku, cita-citaku, pembuktian yang harus aku raih, dan isi kepala ini.”
“Saya masih nggak ngerti.” Keenan melipat tangannya di dada. “Waktu aku kecil, punya cita-cita ingin jadi penulis dongeng masih terdengar lucu. Begitu sudah besar begini, penulis dongeng terdengar konyol dan nggak realistis. Setidaknya, aku harus jadi penulis serius dulu. Baru nanti setelah mapan, lalu orang-orang mulai percaya, aku bisa nulis dongeng sesuka-sukaku.”
“Jadi ... kamu ingin menjadi sesuatu yang bukan diri kamu dulu, untuk akhirnya menjadi diri kamu yang asli,
begitu?”
“Yah, kalau memang harus begitu jalannya, kenapa nggak?”
“Bukannya itu yang nggak matching?” tanya Keenan lagi, tajam.
“Asal kamu tahu, di negara ini, cuma segelintir penulis yang bisa cari makan dari nulis tok. Kebanyakan dari mereka punya pekerjaan lain, jadi wartawan kek, dosen kek, copy writer di biro iklan kek. Apalagi kalau mau jadi penulis dongeng! Sekalipun aku serius mencintai dongeng, tapi penulis dongeng bukan pekerjaan ‘serius’. Nggak bisa makan.”
“Tadi kamu makan pizza. Nggak ada masalah, kan? Artinya kamu bisa makan.”
“Aku harus bisa mandiri, punya penghasilan yang jelas, baru setelah itu ... TER-SE-RAH,” nada suara Kugy mulai tinggi, “aku nggak tahu kamu selama ini ada di planet mana,tapi di planet bernama Realitas ini, aturan  mainnya ya begitu.”
Keenan terdiam. Di kepalanya melintas gulungan-gulungan kanvas bertorehkan lukisan yang ia tinggalkan di
Amsterdam. “Betul. Memang begitu aturan mainnya,” gumamnya 

(Kutipan Novel Perahu Kertas, Dee)

     I love this part badly. Bener banget! Kadang kita harus berputar-putar dulu  untuk mencapai tujuan hanya karena terlalu takut untuk mengambil resiko. Aturan planet ini sedikit banyak menuntut kita berpikir realistis. walaupun tak jarang itu berarti mengorbankan mimpi kita. Mungkin itu opportunity cost yang harus kita korbankan. Can't wait for this movie!


Semua orang punya Goa Platonya masing-masing. Dalam hal ini gua plato gue adalah keluarga dan sahabat. Sebelumnya tau kan apa Goa Plato? Beneran nggak tau? Pasti belom baca 5 cm ya.

Mengutip dari salah satu buku best seller karya Donny Dhirgantoro, 5 cm....

"Plato pernah bilang kalo nanti nya dalam kehidupan nya setiap manusia akan terjebak dalam sbuah goa gelap yang berisi keteraturan kemapanan, dan mereka senang berada di dalam nya. Karena mereka terbuai dengan segala kesenangan di sana dengan apa yang telah mereka capai, hingga akhirnya mreka takut keluar dr gua tersebut. Mereka memang bahagia, namun diri mereka kosong dan mreka nggak pernah menemukan siapa diri mereka sebenanya. Mereka nggak punya mimpi."

Somewhat  gue termasuk salah satu orang yang terlalu takut untuk keluar dari goa tsb. Gue terlalu takut keluar dari zona nyaman gue. Paling nggak gue butuh cukup banyak waktu untuk adaptasi, setidaknya setengah tahun.

Beberapa orang di sekitar gue beranggapan kalo gue adalah orang yang supel dan suka bergaul. Sampe-sampe gue dibilang make sense ketika curhat kalo gue belom klop dengan lingkungan baru gue setelah hampir seperempat tahun berjalan. Gue sadar betul kenapa mereka beranggapan demikian, mengingat sikap gue yang talkative, carefree & passionate saat berada di Goa Plato. Dan sebaliknya gue bakal jadi diam seribu bahasa ketika berada di lingkungan yang gue rasa asing. Efeknya, gue terkesan pilih-pilih temen.


Masih karena terlalu nyaman di Gua Plato. Gue juga jadi terkesan nggak punya mimpi. Gue hanya mengikuti arus kehidupan. Seandainya gue punya target-target pun itu adalah hal yang tanpa gue targetkan pun kemungkinan besar tercapai. Gue terlalu takut untuk pasang target yang tinggi. Gue terlalu takut untuk jatuh.

Entah sampai kapan gue mengurung diri di Gua ini. Yang pasti cepat atau lambat gue harus keluar. Ada saatnya dimana gue harus  pergi, paling tidak pindah ke Goa yang lain.


My Plato's Cave

by on 06.29
Semua orang punya Goa Platonya masing-masing. Dalam hal ini gua plato gue adalah keluarga dan sahabat. Sebelumnya tau kan apa Goa Plato? Be...

     Saat sesuatu tidak berjalan sesuai harapan kadang aku merasa kesal dan tak jarang aku meluapkan amarah dengan berbagai cara. Dari mulai curhat ke sahabat, menulis status facebook, nge-tweet, nge-ping ataupun nge-blog. Tak adil rasanya, kenapa begini? kenapa harus aku? kenapa aku gagal?

     Padahal jika aku mau melihat lebih dekat, semua hal yang terjadi punya alasannya tersendiri. Aku hanya harus bersabar untuk mengetahui apa hikmah yang tersembunyi.
    
     Contoh yang paling aku rasakan adalah ketika aku lulus SMA. Saat itu aku diliputi kegundahan yang teramat sangat membingungkan. Keinginanku untuk kuliah sangat kuat tetapi mengingat biaya kuliah sekarang yang kian mahal ditambah dengan aku yang tinggal di lingkungan yang tidak begitu mementingkan kuliah. Orang tuaku pun lebih merekomendasikan aku untuk bekerja. Akhirnya aku memutuskan tidak mengikuti seleksi masuk ke perguruan tinggi negeri, sebaliknya  aku mengikuti bursa kerja di sekolah. Jujur, aku setengah hati menjalaninya dan aku pun sempat mengungkapkan itu kepada kedua orang tua. Saat itu aku teringat pada tawaran saudara sepupuku atas program beasiswa penuh yang ada di kampusnya. Memang universitas swasta, tapi tak apa lah yang penting aku bisa kuliah, pikirku saat itu. Aku kembali menyampaikan keinginanku untuk meng-apply beasiswa kesana kepada kedua orang tua. Kebetulan Rektor Universitas tsb adalah teman Bapak - Ayahku-  di majelis zikir-nya. Bapak pun mencoba menanyakan tentang program beasiswa itu, dan sayangnya ternyata beasiswa itu bukan beasiswa penuh, mungkin hanya sekedar potongan biaya.

     Memang banyak program beasiswa Perguruan Tinggi Negeri yang ada tetapi informasi yang aku dapat sangatlah terbatas. Sekolahku sebenarnya sempat merekomendasikan beberapa anak untuk ikut tes program beasiswa sebuah Institut Tekhnologi di Kota Bandung. Sayangnya, aku tidak termasuk dari mereka. Kecewa pasti, apalagi ketika aku mengetahui bahwa teman sekelasku yang notabene peringkat-nya di bawahku direkomendasikan. Terlebih lagi dengan kenyataan bahwa dia tidak berminat ikut. Kenapa bukan aku yang direkomendasikan? pikirku dalam hati.

     Aku kecewa tapi aku belum menyerah. Aku masih punya satu jalan lagi. Salah satu sekolah yang tidak memungut biaya kuliah alias gratis  yang aku tahu saat itu adalah Sebuah Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) di Bintaro. Aku pun mengungkapkan keinginanku untuk mengikuti tes PTK itu. Memang peluang masuknya kecil, bahkan belum ada alumni sekolahku yang berkesempatan mengenyam pendidikan disana. Susah bukan berarti tidak bisa kan, pikirku menyemangati diri sendiri. Dengan menggunakan uang simpanan mama -ibuku-, aku pun mendaftarkan diri untuk mengikuti tes. Bukan tanpa hambatan, saat itu salah satu dokumen yang aku bawa ternyata bermasalah sehingga aku harus mengurusnya lebih lanjut. Di perjalanan pulang pun aku sempat tertabrak truk yang hendak berbelok. Untungnya tak ada luka serius. Kakiku hanya sedikit lebam.

     Sambil menunggu tes masuk PTK tsb, Aku mulai fokus untuk menjalani serangkaian tes pencarian kerja. Sampai akhirnya aku dinyatakan lulus tes tertulis sebuah perusahaan elektronik. Aku pesimis dapat lolos sampai ke tahap akhir karena tinggi badanku yang kurang dari standar dan umurku yang belum memasuki usia kerja. Ternyata tidak hanya aku yang merasa seperti itu, ada beberapa teman tes-ku yang merasakan hal yang sama. Kami pun bertanya kepada guru BK kami apakah hal tsb akan ditoleril oleh perusahaan tsb? tenang saja itu hanya shock therapy, jelasnya.

     Sampai akhirnya aku lulus sampai tahap kesehatan dan diharuskan membayar sejumlah uang. Keluargaku sangat senang mendengar kabar itu dan menyebarkan kabarnya ke tetangga maupun sanak saudara. Aku turut senang dan mulai berusaha memadamkan niatku untuk kuliah. Sayangnya, ternyata kebahagian itu hanyalah semu. Aku dan beberapa temanku yang memiliki tinggi badan yang  kurang dari standar dan umur yang belum memasuki usia kerja dinyatakan tidak lulus oleh pihak perusahaan. Aku dan beberapa teman tak sabar untuk protes ke ruangan BK, ternyata yang mereka katakan selama ini hanyalah klise belaka. Kami kesal, merasa dibohongi. Pada akhirnya kami mau tidak mau menerima kenyataan yang ada. Uang kami dikembalikan tetapi hanya separuhnya dengan alasan sebagai biaya administrasi dan transport saat tes kesehatan.

     Sejak saat itu aku semakin pesimis tetapi hal itu tak lantas membuatku terpuruk. Aku memang semakin setengah hati mencari pekerjaan tetapi hatiku semakin mantap untuk berkuliah. Aku memutuskan fokus belajar untuk tes PTK yang semakin dekat. Hampir setiap hari aku meluangkan waktuku untuk belajar.  Sampai saat waktu tes pun tiba. Cukup lancar ya  walaupun aku sempat nge-blank.
Sebulan lebih berlalu. Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Eksekusi. Peradilan. Atau lebih tepatnya lagi Pengumuman. Aku sempat pesimis dengan banyaknya pesaing tetapi Alhamdulillah... ternyata Allah menjawab usahaku selama ini, kegundahanku selama ini, doaku selama ini.
Aku mulai berpikir tentang semua hal yang telah terjadi, hal-hal yang selama ini membuatku kecewa dan tidak puas. Aku mulai sadar. Meskipun kadang berliku-liku, jalanNya memang lebih indah.

Aku bersyukur tidak mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri, karena uang pendaftarannya dapat digunakan keluargaku untuk hal lain yang lebih kami butuhkan. Toh kalaupun aku lolos, belum tentu sanggup membayar segala tetek bengeknya.
 

Aku bersyukur tidak direkomendasikan program beasiswa itu, karena aku bisa lebih fokus untuk Ujian Nasional. Toh jika aku ikut belum tentu lolos.
 

Aku bersyukur tidak lolos tes kerja, karena waktu belajarku bertambah.
 

Aku berterima kasih pada mereka yang telah membuatku kecewa, karena mereka telah menjadi salah satu motivator terbesarku untuk bangkit dan maju.

Kita hanya harus bersabar untuk mengenyam buah yang manis. Seperti seorang petani yang harus sabar saat padinya diserang hama dalam perjuangannya untuk mendapatkan hasil panen yang melimpah.
Lihatlah lebih dekat tentang semua kegagalan yang telah kita alami. Pasti ada hikmah yang tersembunyi dibalik semua itu.

Seperti kata Sherina. "Lihatlah lebih dekat dan kau akan mengerti..."

Lihatlah Lebih Dekat

by on 19.51
     Saat sesuatu tidak berjalan sesuai harapan kadang aku merasa kesal dan tak jarang aku meluapkan amarah dengan berbagai cara. Dari mula...
Balon Meletus

Mekanisme Permainan:

1.     Isi balon karet dengan air secukupnya (bisa juga tanpa diisi air. Tergantung selera)
2.      Gantung balon tersebut (seperti lomba makan kerupuk).
3.      Masing-masing anak ditugaskan untuk memeletuskan balon karet yang berisi air tersebut dengan menggunakan pulpen yang ujungnya dimasukan ke dalam mulut.
4.      Anak yang pertama kali membuat balon meletus adalah pemenangnya.
5.      Dilarang menggunakan tangan. Kejujuran dibutuhkan dalam hal ini. Anak yang ketahuan menggunakan tangan akan didiskualifikasi.
  
Moral Value:
  •  Kejujuran itu sangat penting.
  • Daripada ngemut pulpen lebih baik ngemut permen mint.

Tahu nggak sih?  

Mekanisme Permainan:

1.      Buatlah kelompok yang terdiri dari beberapa anak

2.      Buatlah daftar pertanyaan dan tulis dalam gulungan kertas kecil.
 Contoh:
·         Tahu nggak sih kalian siapa aja personel boyband SM*SH?
·         Tahu nggak sih kalian siapa nama suami Krisdayanti?
·         Tahu nggak sih kalian dimana ibukota jawa tengah?
·         Tahu nggak sih kalian apa bahasa inggrisnya ‘keren’?
·         Tahu nggak sih kalian kapan proklamasi bangsa indonesia?
·         Dll.

3.      Semua anak berdiri membentuk sebuah lingkaran (boleh ngacak, boleh berdasarkan kelompok, bebas deh pokoknya)

4.       Seorang panitia mengajukan pertanyaan dengan mengundi daftar pertanyaan yang telah dibuat.

5.       Setiap anak wajib menjawab ‘tahu’ atau ‘tidak tahu’. Jawaban ‘tidak tahu’ akan mengurangi poin kelompok sebesar 1. Mereka boleh berpura-pura tahu dengan konsekuensi apabila ketahuan berbohong poin kelompok mereka berkurang sebesar 2. Darimana kita tahu mereka berbohong atau tidak? Setiap anak berhak menuduh anak lain berbohong dengan bertanya apa jawaban yang anak lain itu pikirkan? Apabila tuduhan tersebut terbukti kebenarannya, poin kelompok yang anggotanya ketahuan berbohong akan dikurangi sebesar 2, dan sebaliknya apabila tuduhan tersebut salah, poin kelompok anggota yang menuduh akan dikurangi sebesar 1.


6.     Jumlah poin kelompok akan diakumulasikan. Kelompok dengan poin terendah akan mendapatkan sanksi, contoh: lipsing sambil joged lagu 7icons.

     Prinsip dasar permainan ini sama dengan saat kita bermain kartu ‘boong’, setiap orang yang ketahuan berbohong akan dikenakan sanksi. 

Moral Value:
  • Berkata jujur lebih baik dari pada kita berbohong. (kalo jujur cuma minus 1, ketahuan bohong minus 2)
  •  Jangan sembarangan menuduh orang
  •  Harus tahu semua nama personil SM*SH


Blind Ball

Mekanisme Permainan:
  1. Siapkan botol-botol yang bertuliskan nomor
  2. Botol disusun secara acak dan menyebar.
  3. Setiap anak ditugaskan untuk menendang bola ke arah botol-botol tersebut dengan kedua mata tertutup. Anak yang ketahuan berbuat curang akan diskualifikasi.
  4.  Apabila bola tersebut membuat botol terjatuh, maka anak itu akan mendapatkan hadiah sesuai dengan nomor yang tertera pada botol.
Moral Value:
·         Kejujuran adalah segala-galanya
·         Cinta itu buta
 
©opy Rigt-Rishid2011

Honesty Games

by on 00.16
Balon Meletus Mekanisme Permainan: 1.      Isi balon karet dengan air secukupnya (bisa juga tanpa diisi air. Tergantung selera) 2.       G...
Kali ini gue nulis sebagai orang awam yang nggak tau apa-apa (Bukan sebagai Mahasiswa STAN).

"Kapan sih pendaftaran STAN?"

Kalo dirank mungkin pertanyaan ini masuk FAQ di Web Resmi STAN. Di kalangan masyarakat sendiri sempet ada gosip yang beredar masalah jadwal pendaftaran, tapi ternyata semua itu hanya hoax, saudara-saudara. Sampe postingan ini dibuat belom ada tanda-tanda Pengumuman resmi dari pihak STAN. Padahal tanggal 29 Juni kemaren, hasil SNMPTN udah keluar. Yang lolos pasti harus daftar ulang dalam waktu dekat, dan (gue tekankan blog) biaya kuliah sekarang itu nggak murah, apalagi di PTN yang punya nama besar. STAN bisa jadi satu-satunya harapan untuk ngelanjutin kuliah buat beberapa orang.

Dari Taun-taun kemaren, STAN emang sih selalu buka pendaftaran belakangan. Tapi taun ini tuh bener-bener deh,blog. Masa ampe bulan juli gini belom ada pengumuman. Kasian orang-orang yang berharap banyak sama STAN. Kasian yang udah rajin-rajin ikut TO bahkan bimbel yang eksklusif. Bisa ngabisin biaya jutaan rupiah tuh. Emang sih kemungkinan lolos cuma sekitar 3 % tapi yang penting mereka dikasih kesempatan buat membuktikan dirinya. I think that's enough.

Gue punya cerita masalah kegalauan pra kuliah. Jadi gini, ada salah satu temen gue (seangkatan) yang lolos SNMPTN taun ini. Dia dapet di salah satu PTN favorit yang cukup keren, sebut aja 'Universitas Cukup Keren'. Setelah gue iseng-iseng googling, ternyata biaya daftar ulang yang harus dia bayar sekitar 10 jutaan, ditambah biaya kos dan biaya tak terduga jadi sekitar 15 jutaan. Dia harus daftar ulang dalam waktu kurang 2 minggu dari pengumuman, sedangkan dia (bisa dibilang) nggak punya uang sebanyak itu. Dia dirundung rasa galau yang berkepanjangan. Dalam hati, jelas dia pengen  banget ngambil kesempatan ini. Tapi di sisi lain dia juga ngerasa kalo dia bukan tanggungan orang tuanya lagi, justru sebaliknya orang tuanya lah yang sekarang jadi tanggungannya. Mungkin ada banyak program beasiswa disana, tapi prosesnya pasti nggak gampang dan itu sifatnya hanya sebagai kompensasi, bukan beasiswa penuh. Sebenernya dia juga berminat ikut USM STAN,tapi mengingat sampe sekarang belom ada kabar yang berarti ditambah lagi dengan kenyataan bahwa dia belom tentu lolos USM, dia mulai ragu. Gue emang nggak tahu banyak, tapi satu hal yang pasti gue tahu, saat ini dia dalam posisi yang sulit. Setiap pilihan yang dia punya, punya konsekuensi masing-masing. Ada pilihan yang konsekuensinya kecil, tapi nggak akan banyak ngerubah hidupnya. Pilihan yang konsekuensinya besar, punya efek yang besar buat masa depannya. Kayak dalam Manajemen, "Resiko itu sebanding dengan hasil yang akan kita dapatkan".

Balik lagi soal STAN, sebenernya isu penutupan STAN udah ada sejak taun lalu. Katanya sebenernya udah dikeluarin peraturan mengenai penghapusan PTK di Indonesia. Katanya juga peraturan tsb harus diterapkan maksimal setelah berapa taun peraturan itu dibuat (lupa gue). Karena penasaran, gue pun googling. Hasilnya,

Menurut Fasli Jalal, Wakil Menteri Pendidikan Nasional, pendidikan kedinasan di bawah instansi pemerintahan harus menyesuaikan diri dengan ketentuan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Jika ingin tetap mempertahankan pendidikan tinggi jenjang diploma hingga sarjana, pendidikan tinggi kedinasan mesti berubah menjadi badan hukum pendidikan pemerintah atau bekerja sama dengan perguruan tinggi umum sejenis. Ketentuan UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) itu juga menyebutkan bahwa pendidikan kedinasan yang diakui pemerintah adalah pendidikan profesi, yaitu bentuk pendidikan tinggi setelah program sarjana. Ini diatur dalam Pasal 29 UU Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Mahasiswa STAN sempet demo segala lho. Cek artikelnya
Ada yang berpendapat kalo sebenernya UU yang disebut di atas adalah langkah penyesuaian bukan penghapusan PTK. Pendidikan kedinasan yang diakui pemerintah adalah pendidikan profesi, yaitu bentuk pendidikan tinggi setelah program sarjana. Jadi kayak semacam diklat gitu lho harusnya. Tapi kalo bener begitu adanya sistem PTK mesti dirombak besar-besaran dong? Kalo gini sih penyesuaian kesannya cuma perhalusan dari kata penghapusan. CMIIW. Seperti yang gue bilang di awal postingan disini gue cuma orang awam yang nggak tau apa-apa.

Semua pasti berharap keputusan yang diambil Pemerintah akan menguntungkan semua pihak. Semoga Menteri Keuangan kita tercinta yang baru, Pak Agus Martowardoyo, juga bisa lebih sigap dalam mengambil keputusan. Semoga pendidikan di Indonesia pada akhirnya bisa berpihak kepada semua kalangan masyarakat. Semoga birokrasi di negeri ini bisa semakin baik dan menjaga jarak dari 'korupsi'.

Wish Indonesia can be better!
Tulisan ini hanya ditujukan untuk orang yang bisa baca dan nggak buta huruf.

           Semua orang pasti mempunyai sebuah  harapan dalam hidupnya, sebuah harapan yang akan mengisi dan memenuhi  angan dan benak mereka. Hal ini biasa kita kenal juga dengan sebutan mimpi. Mimpi yang dimaksud disini memang bukan bunga tidur, tetapi mimpi dalam konteks bunga tidur pun tidak dapat dilepaskan korelasinya dengan mimpi yang berupa pengharapan ini. Di dalam bunga tidur sama-sama tersirat sebuah pengharapan. Misalnya kita sedang mengidam-idamkan suatu barang, tidak jarang hal itu terbawa ke dalam mimpi yang menjadi bunga tidur kita.
            Setiap orang memiliki mimpi yang berbeda-beda. Mulai dari hal-hal yang masuk akal sampai pada hal-hal yang agak irrasional. Sebagai contohnya saya mempunyai seorang sahabat, dia memiliki mimpi yang mungkin menurut orang lain tidaklah penting yaitu dia ingin menggunakan bahasa inggris selama satu hari penuh dalam berkomunikasi dalam bentuk apapun dengan orang lain. Contoh lainnya adalah mimpi saya untuk dapat menginjakan kaki di puncak tertinggi di Indonesia,tepatnya di Puncak Jaya Wijaya, Papua. Setiap orang berhak menentukan sendiri apa mimpi-mimpi mereka. Mereka juga memiliki kebebasan untuk membiarkan diri-diri mereka terhanyut dalam buaian mimpi-mimpi mereka sendiri atau sebaliknya bangun dari mimpi-mimpi mereka dan merealisasikannya ke dalam kehidupan nyata. Hidup itu pilihan dan semua pilihan tergantung pada diri kita sendiri.
            Mimpi juga kerap dihubungkan dengan cita-cita. Biasanya cita-cita itu berasal dari mimpi-mimpi yang sudah tertanam kuat di angan dan benak kita masing-masing. Harapan,mimpi dan cita-cita memang tiga hal yang memiliki hubungan sangat erat dan tidak mungkin dipisahkan. Adanya sebuah harapan membuat kita bisa bermimpi dan mimpi-mimpi inilah yang nantinya akan tumbuh menjadi cikal bakal dari cita-cita kita.
            Orang-orang yang besar banyak lahir dari mereka yang mempunyai mimpi yang besar pula. Misalnya Albert Einstein. Mimpinya untuk bisa menerangi dunia dengan cahaya lampu pijarnya akhirnya membawanya pada kesuksesan nyata. Kini namanya telah melanglang buana berkat penemuannya yang berawal dari sebuah mimpi belaka itu. Selain Einstein ada juga Sochiro Honda yang menuai kesuksesan dengan merk kendaraan Honda miliknya dan hal tersebut lagi-lagi berakar dari sebuah mimpi yang tadinya hanyalah sebuah khayalan. Selain Einstein dan Honda, masih banyak lagi tokoh-tokoh besar yang meraih kesuksesannya berkat mimpi-mimpi yang mereka punya. Mimpi memang telah terbukti menjadi kekuatan yang sangat ampuh yang bisa memotivasi kita dalam mencapai cita-cita. Tetapi mimpi saja tidaklah cukup, dibutuhkan juga usaha yang harus dilakukan untuk merealisasikan mimpi tersebut. Mimpi memang penting, tetapi untuk apa kita bermimpi jika kita tidak merealisasikan mimpi kita ke dalam kehidupan nyata. Kita tidak bisa hidup di dunia khayalan,dunia fiksi,dunia fantasi atau apapun namanya itu. Kita tetap harus hidup di dunia nyata,dunia yang sebenarnya. Boleh saja kita sesekali berkelana di dunia khayal tetapi jangan sampai kita melupakan kehidupan kita di dunia nyata.
            Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk merealisasikan mimpi kita ke dalam kehidupan nyata. Langkah pertama adalah memikirkan dan mencari tahu apa mimpi kita itu. Setelah kita tahu apa mimpi kita, catatlah di sebuah kertas. Kenapa harus kita catat ? Karena kita hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari khilaf dan lupa. Seperti kata orang bijak, “Catat apa yang  kita lakukan dan lakukan apa yang kita catat”. Catat mimpi-mimpi kita ke dalam sebuah daftar sebanyak-banyaknya. Selanjutnya kita harus berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang telah kita catat tadi. Tetapi berusaha saja tidaklah cukup, kita juga harus berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa karena tanpa kehendakNya, semua usaha kita akan menjadi sia-sia. Berusaha tanpa berdoa adalah suatu kesombongan, sedangkan berdoa tanpa berusaha adalah suatu kebodohan. Jadi keduanya harus dilakukan secara sinkron. Setelah kita berusaha dan berdoa, kita pasrahkan apapun hasilnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika berhasil, itulah buah dari usaha dan kerja keras kita. Tetapi ketika usaha dan kerja keras kita tidak berujung kepada suatu keberhasilan, janganlah kita berputus asa karena justru ini akan menjadi awal perjuangan kita yang baru. “Banyak jalan menuju Roma”, banyak jalan pula menuju keberhasilan. Sayangnya kadang kita hanya terfokus pada suatu jalan saja tanpa berpikir bahwa masih ada jalan lain yang bisa kita tempuh. At last but not least, ayo kita coret satu per satu mimpi yang telah dapat kita wujudkan dari daftar mimpi yang telah kita buat sebelumnya. Semakin banyak coretan, semakin menunjukan kesuksesan kita dalam merealisasikan mimpi-mimpi kita. Cara di atas telah dibuktikan keampuhannya oleh seorang mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Bogor. Dia menuliskan mimpi-mimpinya di secarik kertas dan menempelkannya di dinding kamarnya. Karena kegigihan dan usahanya satu per satu mimpinya pun terwujud sampai akhirnya yang tersisa di kertas tersebut hanyalah coretannya saja.
            Mimpi sangat dibutuhkan untuk merancang masa depan kita karena mimpi bisa diibaratkan sebagai gambaran masa depan kita. Apabila kita tidak mempunyai mimpi, maka bisa dipastikan masa depan kita pun akan menjadi tidak terarah. Mimpi memberikan kita gambaran-gambaran indah tentang masa depan yang ingin kita genggam. Tanpa mimpi kita hanyalah orang yang tidak tahu arah dan tujuan hidup kita. Tanpa tahu arah dan tujuan, kita bisa tersesat ke dalam dunia yang kelam. Jangan pernah berhenti bermimpi karena di dalam mimpi tersimpan sebuah motivasi, sebuah motivasi yang berasal dari alam fiksi. Seperti kata grup band Nidji “mimpi adalah kunci untuk kita menakhlukan dunia”. Ayo kita menakhlukan dunia ini dengan cara bermimpi setinggi-tingginya.
Tulisan ini hanya ditujukan untuk orang yang bisa baca dan nggak buta huruf.


Di bawah ini adalah copasan note facebook temen gue yang kayaknya juga merupakan hasil copasan dia dari sumber yang gue sendiri nggak tau. Dari pada puyeng sama kata-kata gue, Mending langsung cekibrot aja deh !
#Temen gue ada yang ngerasa kesindir banget lho waktu gue bacain note ini. But overall dari note ini kita bisa ngambil sebuah pelajaran berharga. \(^o^)/

This is the complete story :

      Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah.Ia kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya, Ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab, ”Insya Allah yang penting hati dulu yang berjilbab. ”

Sudah banyak orang menanyakan maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama.
Hingga di suatu malam.Ia bermimpi sedang di sebuah taman yang sangat indah. Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas dipinggir taman.

     Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya. Ia tak sendiri.Ada beberapa wanita disitu yang terlihat juga menikmati keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.

“Assalamu'alaikum,saudariku....”

“Wa'alaikum salam. Selamat datang saudariku”

“Terima kasih. Apakah ini surga?”

Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan, saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga ”

“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini. ”

Wanita itu tersenyum lagi. ”Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku ?”

“Aku selalu menjaga waktu shalat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah. ”

“Alhamdulillah..”

Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka.Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di Taman mulai memasukinya satu-persatu.
“Ayo kita ikuti mereka” kata wanita itu setengah berlari.

“ Apa di balik pintu itu?” Katanya sambil mengikuti wanita itu.

“ Tentu saja surga saudariku” larinya semakin cepat

“ Tunggu..tunggu aku..”

dia berlari namun tetap tertinggal. Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum kepadanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari. Ia lalu berteriak, “Amalan apa yang telah kau lakukan hingga engkau begitu ringan ?”

“Sama dengan engkau saudariku.” jawab wanita itu sambil tersenyum. Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu.

“ Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan ?”

Wanita itu menatapnya dan tersenyum. Lalu berkata “Apakah kau tak memperhatikan dirimu, apa yang membedakan dengan diriku ?”

Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.

“ Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke Surga-NYa tanpa jilbab menutup auratmu ?”.
Tubuh wanita itu telah melewati pintu, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata

”Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai hatimu karena niatmu adlah menghijabi hati.”

Ia tertegun, lalu terbangun.Beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan shalat malam. Menangis dan menyesali perkataanya dulu, Ia berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya.

so, masih kah kamu menjawab "yang penting hati dulu yang berjilbab?" 



Dikutip dari: Catetan faceboknya Yusuf Wilman

Well, Tulisan di atas secara langsung menunjukan kepada kita tentang betapa pentingnya menutup aurat bagi seorang muslimah. Dan secara nggak langsung Tulisan di atas juga menunjukan bahwa apabila kita ingin berbuat kebaikan, Niat dalam hati saja tidaklah cukup tetapi kita harus merealisasikannya ke dalam perbuatan.

 Buka Mata,Buka Telinga, Buka hati. Jadikanlah apa yang kita lihat,dengar dan rasakan sebagai suatu langkah pengintropeksian diri agar kita menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.